Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Dharma Pendidikan Kompasiana MSN Indonesia Bisnis Indonesia Kompas Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Hariyono.org Education Zone Teknologi Informasi Ekonomi Mikro Ekonomi Makro Perekonomian Indonesia KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Materi Umum Kampus # # #
mandikdasmen Depdiknas Kemdiknas BSNP Kamus Bhs Indonesia BSNP # # # # #
Affiliate Marketing Info Biz # # # # # # # # #
Bisnis Online Affilite Blogs Affiliate Program Affiliate Marketing # # # # # # # # #

Kiki sekarang menggunakan internet untuk menghasilkan lebih banyak uang cukup dengan melakukan survei online untuk perusahaan-perusahaan internasional. Saya melakukan wawancara dengannya tentang kisahnya yang menakjubkan dan dia mengungkapkan langkah-langkahnya menuju sukses. Survey Income Kid.


13 November 2011 | 9:02 PM | 0 Comments

Pendekatan Pembelajaran Holistik

Aplikasi pendekatan holistik menurut Woofolk, A( 1993 ) dalam pembelajaran di sekolah adalah sebagai berikut :

Pertama, wawasan pengetahuan yang mendalam ( insight ) yaitu bahwa wawasan memegang peranan penting dalam perilaku.

Kedua Pembelajaran yang bermakna ( meaning ful learning ) yaitu kebermaknaan unsur – unsur yang terkait dalam suatu objek atau peristiwa akan menunjanng pembentukan insight dalam proses pembelajaran.

Ketiga, perilaku bertujuan ( purposive behavior ) yaitu bahwa hakikatnya perilaku itu terarah pada suatu tujuan.

Keempat, prinsip ruang hidup ( life space ) menyatakan bahwa perilaku individu mempunyai keterkaitan  dengan lingkungan atau medan dimana ia berada. Prinsip ini mengaplikasikan adanya padanan dan akitan antara proses pembelajaran dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan . kelima, transfer dalam pembelajaran yaitu pemindahan pola – pola perilaku dari suatu situasi pembelajaran tertentu kepada situaasi lain. Transfer akan terjadi apabila anak menangkap prinsip – prinsip pokok dari suatu masalah dan memnemukan generalisasi kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.

Untuk dapat menampakkan keberadaan bahwa belajar adalah sebagai proses terpadu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  1. Pembelajan dapat berfungsi secara penuh untuk membantu perkembangan individu anak
  2. Pembelajaran sebagai aktivitas membelajarkan anak untuk memperoleh pengalaman menempatkan anak sebagai pusat segala – galanya
  3. Pembelajaran lebih menuntut kepada terciptanya suatu aktivitas yang memungkinkan ketrlibatan anak secara aktif dan intensif
  4. Pembelajaran menempatkan individu pada posisi yang terhormat dalam suasana kebersamaan di dalam penyelesaian persoalan yang dihadapinya
  5. Pembelajaran sebagi proses terpadu harus mendorong dan menfasilitasi anak untuk terus – menerus belajar
  6. Pembelajaran berperan secara efektif tidak hanya menyangkut sarana fisik, melainkan juga suasana belajar yang kondusif bagi pengembangan semua aspek individu
  7. Pembelajaran sebagi proses terpadu memungkinkan pembelajaran bidang studi tidak harus terpisah, melainkan dilaksanakan secara terpadu
  8. Pembelajaran terpadu memungkinkan adanya hubungan antara sekolah dan keluarga

karena penentu dalam belajar mengajar guru sangat berperan aktif,penjelasan guru di kelas sehingga murid mudah menerima dan pahan sangatlah utama,

 

sumber : arisnews.com

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

Psikologi Belajar & Mengajar

  1. Psikologi Pembelajaran & Pengajaran
    PROF.DR.H. MOHAMMAD SURYA
    Penerbit Pustaka Bani Quraisy
    112 Halaman
  2. PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
    Psikologi berasal dari kata “psyche” yang dapat diartikan jiwa atau nafas hidup, sedangkan “logos” adalah ilmu. Jadi psikologi adalah suatu ilmu yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi dengan lingkungan. Perilaku yang dimaksud adalah dalam pengertian yang luas sebagai manifestasi hayati (hidup) yang meliuti motorik, kognitif, konatif dan efektif. Di dalam psikologi ada beberapa jenis psikologi di antara lain : psikologi perkembangan, psikologi sosial, psikologi abnormal, psikologi pendidikan dan sebagainya. Peranan psikologi dalam pembelajaran dan pengajaran yaitu dapat menciptakan suatu proses pembelajaran dan pengaran yang efektif. Psikologi pendidikan merupakan cabang psikologi yang secara megkaji perilaku individu dalam kaitan dengan situasi pendidikan.
  3. Tujuan psikologi pendidikan ialah menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori psikologi yang berkaitan dengan pendidikan unutuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Pendidik merupakan upaya dalam mempengaruhi individu agar berkembang menjadi manusia yang sesuai dengan yang dikehendaki. Peranan psikologi dalam pembelajaran pengajaran upaya untuk mewujudkan perilaku pembelajaran pada siswa, serta perilaku-perilaku individu lain yang terkait. Beberapa peranan tersebut antara lain : memahami siswa sebagai pelajar, memahami prinsip-prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode pembelajaran dan pengajaran, menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran, memilih dan menetapkan isi pengajaran, membantu sisiwa-siswa yang mendapat kesulitan pembelajaran, memilih alat bantu pembelajran dan pengajaran.
  4. Teori-teori pembelajaran adalah teori perkembangan kognitif (JEAN PIAGET), teori pemprosesan informasi (JEAN GAGNE),dan teori pembelajaran sosial-kognitif (ALBERT BANDURA). Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan secara keseluruhan. Perwujudan perilaku guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar akan tampak dalam interaksi antara keduanya. Dalam interaksi ini terjadi proses saling mempengaruhi sehingga terjadi perubahaan perilaku pada diri pelajar dalam bentuk tercapai hasil belajar. Proses ini berlangsung melalui interaksi antara guru dengan siswa dalam situasi pengajaran yang bersifat edukatif (mendidik). Pengajar hendaknya mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar mampu mewujudkan perilaku siswa melalui interakasi belajar-mengajar yang efektif dalam situasi belajar-mengajar yang kondusif. Sebagai guru dituntut untuk meningkatkan kualitas belajar kepada anak didik dalam kegiatan agar dapat menghasilkan pribadi yang mandiri, dan pelajar yang efektif. Sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk mengenal dan memahamai setiap siswa, memberikan informasi yang diperlukan dalam proses belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar sesuai dengan karakterisitik pribadinya, dan menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yangtelah dilakukan siswa.
  5. Refleksi
    Penijauan : menurut peninjauan saya peranan psikologi dalam pembelajaran dan pengajaran dapat menciptakan situasi pembelajaran dna pengajaran yang kondusif.
    Penilaian diri : penilaian saya terhadap psikologi suatu ilmu pengetahuan yang menggunakan metode-metode ilmiah untuk menganalisis, mengolah dan menafsirkan informasi berkenaan dengan perilaku individu.
    Perencanaan masa mendatang : diharapkan mereka yang terlibat dalam proses dan kegiatan pendidikan itu dapat menunjukkan perilaku pendidikan yang sesuai agar pendidikan dapat berlangsung secara efektif sesuai dengan landasan dan tujuan yang ingin dicapai.
    Sebagai guru diharapkan menggunakan beberapa metode-metode dalam proses belajar mengajar.
  6. BAB II PENGERTIAN PEMBELAJARAN
    Pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu unutk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : perubahan yang sadari, perubahan yang bersifat kontinu, perubahan yang bersifat fungsional, perubahan yang bersifat positif, perubahan yang bersifat aktif, perubahan yang permanen, perubahan yang bertujuan dan terarah. Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.
  7. Menghafal adalah perubahan perilakunya hanya terbatas dalam penyimpanan dan pengerluaran informasi dalam kesadaran, sedangkan dalam belajar perubahan perilakunya keseluruhan. Pembelajaran mempunyai keterkaitan dengan latihan meskipun tidak identik. Dalam pembelajaran dan dalam latihan akan terjadi perubahan perilaku. Aktivitas studi merupaka sebagian dari aktivitas pembelajaran secara keseluruhan. Berfikir adalah merupakn suatu proses kognitif dalam tingkat yang lebih tinggi.
  8. Refleksi
    Penijauan : menurut peninjauan saya pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan mempengaruhi cara guru itu mengajar.
    Penilaian diri : dalam proses pembelajaran semua aktivitas terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu.
    Perencanaan masa mendatang : diharapkan proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif.
    Diharapkan dalam proses pembelajaran adanya suatu interaksi antara guru dan anak didik agar tercapai suatu hasil pembelajaran yang memuaskan.
  9. Bab III Proses Dan Hasil Pembelajaran
    Proses pembelajaran ialah proses individriu mengubah perilaku dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Hal ini mengandung arti bahwa individu akan melakukan kegiatan belajar apabila ia menghadapi situasi kebutuhan. Kebiasaan ialah perilaku yang sifatnya otomatis dan sudah menetap dalam diri individu. Misalnya kebiasaan makan, menulis, mengemudi kendaraan, dsb. Proses pembelajaran tidak diperlukan apabila kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan kebiasaan. Dalam keadaan ini individu harus melakukan proses pembelajaran untuk memperoleh perilaku yang baru agar dapat memenuhi kebutuhannya. Adanya kebutuhan, akan mendorong individu untuk mengkaji perilaku yang ada dalam dirinya, apakah yang ada dapat memenuhi kebutuhan atau tidak. Dalam proses pembelajaran individu mengubah perilaku dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Hal ini mengandung arti bahwa individu akan melakukan kegiatan belajar apabila ia menghadapi situasi kebutuhan.
  10. Hasil yang di dapat dari proses pembelajaran adalah perubahan perilaku individu itu sendiri. Individu akan memperoleh perilaku yang baru, mentap, fungsional, positif, disadari, dsb. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran ialah perilaku secara keseluruhan yang mencakup aspek kognitif, afektif, konatif, dan motorik. Ada beberapa jenis pembelajaran di antara lain : pembelajaran keterampilan, pembelajaran sikap, dan pembelajaran pengetahuan. Pengetahuan tentang pembelajaran yang kita dapat di peroleh dari berbagai sumber di antaranya : filsafat, adat istiadat dan kebudayaan tradisional, penelitian empirik, dan teori-teori pembelajaran. Sifatnya dibedakan antara pembelajaran formal, pembelajaran informal dan pembelajaran non-formal.
  11. Refleksi
    Peninjauan : kita harus memperoleh perilaku yang baru melalui proses pembelajaran.
    Penilaian diri : sebagai guru harus melakukan penilaian terhadap hasil pembelajaran yang mencakup seluruh perubahan perilaku itu.
    Perencanaan masa mendatang : guru diharapkan dapat membantu murid-murid yang gagal agar mereka tidak putus asa dan mampu belajar yang baik.
    Diharapkan dalam proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan kondusif.
  12. BAB IV TEORI-TEORI PEMBELAJARAN
    Dari segi individu, pembelajaran merupakan salah satu upaya individu untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga memperoleh kualitas hidup yang lebih baik dan efektif. Dari segi masyarakat, pembejaran merupakan kunci dalam pemindahan kebuadayaan dari satu generasi ke generasi baru. Pengetahuan tentang pembelajaran yang kita dapat di peroleh dari berbagai sumber di antaranya : filsafat, adat istiadat dan kebudayaan tradisional, penelitian empirik, dan teori-teori pembelajaran. Kareteristik suatu teori ialah memberikan kerangka kerja konseptual untuk suatu informasi, dan dapat prinsip yang dituju. Teori merupakan suatu perangkat prinsip-prinsip yang organisasi mengenai peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan. Pembelajaran merupakan proses pembentukan perkaitan antara rangsangab dan tidak balas atau stimulus-respons. Dengan demikian, maka perubahan perilaku itu lebih banyak karena pengaruh lingkungan. Teori pembelajaran behaviorisme dibedakan antara teori pelaziman klasik (classical conditioning) dan teori operan (operant conditioning).
  13. Ada dua prinsip dasar yang dikemukakan oleh Watson yaitu prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Psikologi gestalt dirintis oleh Max Wertheimer seorang ahli psikologi Jerman yang pada tahun 1912 mengadakan eksperimen mengenai pengamatan. Eksperimennya merupakan suatu inovasi mengenai pengamatan. Jadi, unsur suatu obyek atau peristiwa akan memberi makna apabila individu mampu melihat hubungan atau keterkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu keseluruhan. Pengetahuan tentang pembelajaran yang kita dapat di peroleh dari berbagai sumber di antaranya : filsafat, adat istiadat dan kebudayaan tradisional, penelitian empirik, dan teori-teori pembelajaran. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu siswa dalam memahami tujuan itu untuk selanjutnya mengembangkan aktivitas pembelajaran yang efektif.
  14. Refleksi
    Peninjauan : menurut peninjauan saya guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu siswa dalam memahami tujuan itu untuk selanjutnya mengembangkan aktivitas pembelajaran yang efektif.
    Penilaian diri : menurut penilaian saya tentang proses pembelajaran akan efektif apabila disesuaikan dengan situasi yang ada.
    Perencanaan masa mendatang : diharapkan guru harus senantiasa mengontrol aktivitas murid selama proses pembelajaran ini agar aktivitasnya dapat lebih efektif sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai.
    Pemerintahan harus memperhatikan proses pendidikan agar lebih efektif dan kondusif.
  15. BAB V TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (2)
    Teori-teori pembelajaran adalah teori perkembangan kognitif (JEAN PIAGET), teori pemprosesan informasi (JEAN GAGNE),dan teori pembelajaran sosial-kognitif (ALBERT BANDURA). Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan secara keseluruhan. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan mental yang bertujuan memisahkan kenyataan yang sebenarnya dengan fantasi, menjelajah kenyataan dan menemukan hukum-hukumnya, memilih kenyataan-kenyataan yang berguna bagi kehidupan, menentukan kenyataan yang sesungguhnya di balik sesuatu yang nampak. Perkembangan kognitif terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dengan lingkungan melalui dua proses yaitu organisasi dan adaptasi. Intelegensi merupakan dasar bagi perkembangan kognitif.
  16. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pada pembelajaran. Hasil pembelajaran manusia pada dasarnya bersifat kumulatif, yang berarti bahwa hasil pembelajaran yang dicapai individu adalah merupakan kumpulan keseluruhan hasil-hasil pembelajaran sebelumnya yang saling terkait. Dalam mengembangankan proses pengajaran yang efektif teori ini menyarankan strategi adalah mengindefikasikan model-model perilaku yang akan digunakan dalam kelas, mengembangkan perilaku yang memberikan nilai-nilai secara fungsional, dan memilih perilaku-perilaku model, mengembangkan urutan atau peringkat proses pengajaran, menerapkan aktivitas pengajaran dan membimbing aktivitas pembelajaran siswa dalam membentuk proses kognitif dan motorik.
  17. Refleksi
    Peninjauan : menurut saya teori-teori pembelajaran dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
    Penilaian diri : penilaian saya terhadap perkembangan kognitif terbentuk melalui interaksi yang kostan baik untuk individu dengan lingkungannya.
    Perencanaan masa mendatang : diharapkan interaksi dengan lingkungan, individu akan memperoleh pengetahauan yang dapat bermanfaat bagi anak didik.
    Diharapkan perkembangan dapat berkembang dalam proses pembelajaran dan dijadikan tujuan dan dasar bagi pendidik.
  18. BAB VI ASPEK-ASPEK PSIKOLOGI DALAM PROSES PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN
    Perwujudan perilaku guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar akan tampak dalam interaksi antara keduanya. Dalam interaksi ini terjadi proses saling mempengaruhi sehingga terjadi perubahaan perilaku pada diri pelajar dalam bentuk tercapai hasil belajar. Psikologi mengajar dalam lingkupnya, pendidikan diwujudkan melalui proses pengajaran, baik di dalam atau diluar kelas. Proses ini berlangsung melalui interaksi antara guru dengan siswa dalam situasi pengajaran yang bersifat edukatif (mendidik). Pengajar hendaknya mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar mampu mewujudkan perilaku siswa melalui interakasi belajar-mengajar yagng efektif dalam situasi belajar-mengajar yang kondusif. Sebagai guru dituntut untuk meningkatkan kualitas belajar kepada anak didik dalam kegiatan agar dapat menghasilkan pribadi yang mandiri, dan pelajar yang efektif.
  19. Sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk mengenal dan memahamai setiap siswa, memberikan informasi yang diperlukan dalam proses belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar sesuai dengan karakterisitik pribadinya, dan menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yagn telah dilakukan siswa. Proses pengajaran yang efektif yang dapat terbentuk melalui pengajaran memiliki ciri-ciri di antaranya : berpusat pada siswa itu sendiri, interaksi edukatif antara guru dengan siswa, suasana demokratis, variasi metode mengajar, guru profesional, bahan yagn sesuai dan bermanfaat, lingkungan yang kondusif, dan sarana belajar yang menunjang. Mengajar adalah merupakan tugas utama seorang guru. Oleh karena itu, keefeektifannya dalam mengajar akan tergantung pada bagaimana guru melaksanakan aktivitas mengajar secar baik. Psikologi guru merupakan suatu peran yang sangat penting, perilaku guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh dan warna yang kuat bagi pembinaan perilaku dan kepribadian siswa. Oleh karena itu, perilaku guru hendaknya dapat menjadi contoh yang baik untuk siswa. Ada beberapa aspek psikologi yang terkait dengan proses pembelajaran dan pengajaran yaitu motivatasi, pengamatan dan perhatian, mengingat dan lupa, transfer dalam belajar dan kebutuhan individu. Itu semua yang akan mempengaruhi proses belajar.
  20. Refleksi
    Penijauan : guru sekaligus berperan sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar.
    Penilaian diri : metode mengajar yang dipergunakan oleh guru dapat menjadi unsur penting bagi perwujudan perilaku pelajar.
    Perencanaan masa mendatang : diharapkan dalam proses belajar mengajar akan terjadi interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa.
    Guru dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas belajar para peserta didik dalam bentuk kegiatan belajar yang sedemikian rupa dapat menghasilkan pribadi yang mandiri.
  21. BAB VII ASPEK-ASPEK PERILAKU PEMBELAJARAN
    Memahami motivasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi merka yang secar langsung atau tidak langsung terlibat dalam proses belajar mengajar. Kepuasan yang diperoleh siswa dari proses belajar dapat menimbulkan unjuk kerja yang baik, dan dapat meningkatkan motivasi belajar. Prinsip motivasi yang dapat dijadikan acuan adalah prinsip kompetisi,, prinsip pemacu, prinsip ganjaran dan hukuman, kejelasan dan pendekatan tujuan, pemahan hasil, pengembangan miant, lingkungan yang kindusif dan keteladanan.Tujuan psikologi pendidikan adalah menemukan bebagai fakta, genelisasi dan teori psikologi yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksnakan proses pendidikan yang efektif. Pendidikan merupakan upaya dalam mempengaruhi individu agar berkembang menjadi manusia yang sesuai dengan yang dikehendaki.
  22. Dalam pendidikan, terjadi proses pengembangan potensi manusiawi dan proses pewarisan kebudayaan. Pendidikan merupakan kegiatan yang melibatkan individu (manusia) yang berperilaku yang disebut dengan perilaku cara langsung ataupun tidak langsung, terlibat dalam pendidikan seperti pendidik, peserta didik dan sebagainya. Di dalam psikologi adanya suatu pendekatan terhadap perilaku, ada beberapa jenis pendekatan yang akan memberikan penjelasan mengapa, bagaimana perilaku individu itu sendiri. Pendekatan yang utama adalah behaviorisme, kognitif, humanistik, psikoanalisa dan neurobiologi. Sebagai ilmu pengetahuan psikologi menggunakan metode-metode ilmiah untuk mengumpulkan, mengolah dan menafsirkan perilaku individu. Beberapa metode yang digunakan yaitu eksperimen, observasi, klinis, psikometri.
  23. Refleksi
    Peninjauan : guru dapat mengunakan metode antara lain eksperimen, observasi, klinis, psikometri.
    Penilaian diri : guru menjadi teladan bagi anak didik dalam pendidikan
    Perencanaan masa mendatang : diharapkan perilaku guru dapat menjadi teladan bagi para siswa agar dapt lebih meningkatkan motivasii belajar.
    Untuk lingkungan dapat dijadikan sarana untuk pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien.
  24. BAB VIIIPSIKOLOGI MENGAJAR
    Melalui proses pengajaran siswa akan berkembang ke arah pembentukan manusia sebagaimana tersirat dalam tujuan pendidikan. Proses pengajaran yang efektif dapat terbentuk melalui pengajaran yang memiliki ciri-ciri adalah berpusat pada siswa, interaksi edukatif antara guru dengan siswa, suasana demokratis, variasi metode mengajar, guru profesional, bahan yang sesuai dan bermanfaat, lingkungan yang kondusif dan sarana belajar yang menunjang. Diharapkan agar pada tahap permulaan untuk mempelajari satu dari empat rumpun model. Model-model mengajar ini adalah untuk mengkreasikan lingkungan.
  25. Model belajar itu merupakn stimulator bagi dirinya sendiri. Guru yang bijaksana akan mengatur perbedaharaan strategi yang tepat untuk menghadapi bermacam-macam masalah-masalah belajar tertentu. Rumpun model ini lebih menekankan pada aspek perilaku. Psikologi mengajar merupakan suatu peran yang sangat penting, perilaku guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh dan warna yang kuat bagi pembinaan perilaku dan kepribadian siswa. Oleh karena itu, perilaku guru hendaknya dapat menjadi contoh yang baik untuk siswa.
  26. Refleksi
    Penijauan : guru harus mampu menciptakan proses pengajaran dalam suasana pembelajaran dan pengajaran yang baik.
    Penilaian diri : keefektifan dalam mengajar akan tergantung pada bagaimana guru mampu melaksanakan aktivitas mengajar secara baik.
    Perencanaan masa mendatang : diharapkan guru memilki jiwa profesional dan tanggung jawab yang tinggi.
    Guru memberikan kesempatan kepada anak didik untuk berlatih dan mengembangkan hak dan kewajibannya.
  27. BAB IXPSIKOLOGI GURU
    Peran guru artinya keseluruhan perilaku yang harus dilakukan duru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Psikologi mengajar merupakan suatu peran yang sangat penting, perilaku guru dalam proses pendidikan akan memberikan pengaruh dan warna yang kuat bagi pembinaan perilaku dan kepribadian siswa. Oleh karena itu, perilaku guru hendaknya dapat menjadi contoh yang baik untuk siswa. Kebutuhan merupakan situasi kekurangan dalam diri individu yang mendorongnya untuk berperilaku unutk mencapi tujuan. Dalam hubungan dengan jabatan guru, perilaku pada dasarnya adalah upaya memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan dalam diri guru, telah mendorongnya untuk berperilaku sebagai guru.
  28. Kompetensi merupakan keseluruhan pengetahuan, sikap dan keterampilan yagn diperlukan oleh seseorang dalm kaitan denga suatu tujuan tertentu. Kompetensi guru ialah pengetahuan, sikap, dan keterampilan harus ada pada seseorang agar dapat menunjukkan perilakunya sebagai guru. Guru prosfesional adalah guru yang memilki keahlian, tanggung jawab dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat. Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kuantitatif akan membentuk keunikan ata kekhasan seseorang dalam interaksi dengan lingkungan diberbagai situasi dan kondisi.
  29. Refleksi
    Peninjauan : guru memiliki kepribadian yang dapat mewujudkan kinerja secra tepat dan efektif.
    Penilaian diri : guru yang prosfesional harus memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan
    Perencanaan masa mendatang : hendaknya guru memilki kualifikasi kompentensi yang memadai.
    Guru senantiasa memiliki motivasi yang kuat dalam mewujudkan perilaki keguruannya.
Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

04 October 2011 | 5:12 PM | 0 Comments

pendidikan berbasis kebersamaan (kooperatif)

Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Lungdren, 1994) :

a.Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama.”

b. Para siswa harus memiliki tanggungjawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.

c.Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.

d.Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggungjawab di antara para anggota kelompok.

e.Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

f.Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

g.Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Menurut Thompson, et al. (1995), Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 6 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, 1995).

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak- tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al. (2000), yaitu:

a.Hasil belajar akademikDalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

b.Penerimaan terhadap perbedaan individuTujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

c.Pengembangan keterampilan sosialTujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

Elemen-Elemen Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok belum tentu mencerminkan pembelajaran kooperatif. Secara teknis memang tampak proses belajar bersama, namun terkadang hanya merupakan belajar yang dilakukan secara bersama dalam waktu yang sama, namun tidak mencerminkan kerjasama antar anggota kelompok. Untuk itu agar benar-benar mencerminkan pembelajaran kooperatif, maka perlu diperhatikan elemen-elemen pembelajaran kooperatif sebagai berikut (Jonson and Smith,1991; Anita Lie, 2004):

a. Saling ketergantungan Positif

Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Wartawan mencari dan menulis berita, redaksi mengedit, dan tukang ketik mengetik tulisan tersebut. Rantai kerja sama ini berlanjut terus sampai dengan mereka yang di bagian percetakan dan loper surat kabar. Semua orang ini bekerja demi tercapainya satu tujuan yang sama, yaitu terbitnya sebuah surat kabar dan sampainya surat kabar tersebut di tangan pembaca.Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Dalam metode

Jigsaw,

Aronson menyarankan jumlah anggota kelompok dibatasi sampai dengan empat orang saja dan keempat anggota ini ditugaskan membaca bagian yang berlainan. Keempat anggota ini lalu berkumpul don bertukar informasi.

Selanjutnya, pengajar akan mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian. Dengan cara ini, mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain bisa berhasil.Penilaian juga dilakukan dengan cara yang unik. Setiap siswa mendapat nilainya sendiri dan nilai kelompok. Nilai kelompok dibentuk dari "sumbangan" setiap anggota. Untuk menjaga keadilan, setiap anggota menyumbangkan poin di atas nilai rata-rata mereka. Misalnya, nilai rata-rata si A adalah 65 don kali ini dia mendapat 72, dia akan menyumbangkan 7 poin untuk nilai kelompok mereka. Dengan demikian, setiap siswa akan bisa mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan nilai kelompok. Selain itu beberapa siswa yang kurang mampu tidak akan merasa minder terhadap rekan-rekan mereka karena mereka juga memberikan sumbangan.

b. Tanggung jawab perseorangan

Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning

membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. Dalam teknik yang dikembangkan Aronson misalnya, bahan bacaan dibagi menjadi empat bagian dan masing-masing siswa mendapat dan membaca satu bagian. Dengan cara demikian, siswa yang tidak melaksanakan tugasnya akan diketahui dengan jelas clan mudah. Rekan-rekan dalam satu kelompok akan menuntutnya untuk melaksanakan tugas agar tidak menghambat yang lainnya.

c. Tatap MukaSetiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala saja. Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing anggota.Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, meman-faatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Setiap anggota kelompok mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga, don sosial-ekonomi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antaranggota kelompok. Sinergi tidak didapatkan begitu saja dalam sekejap, tetapi merupakan proses kelompok yang cukup ponjang. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka don interaksi pribadi.

nsur ini juga menghendaki agar para pembelaiar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan don berbicara. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaon para anggotanya untuk saling mendengarkan don kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.Ada kalanya pembelajar perlu diberi tahu secara eksplisit mengenai cara-cara berkomunikasi secara efektif seperti bagaimana caranya menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang tersebut. Masih banyak orang yang kurang sensitif dan kurang bijaksana dalam menyatakan pendapat mereka. Tidak ada salahnya mengajar siswa beberapa ungkapan positif atau sanggahan dalam ungkapan yang lebih halus. Sebagai contoh, ungkapan "

Pendapat Anda itu agak berbeda dan unik

.

Tolong jelaskan lagi alasan Anda

," akan lebih bijaksana daripada mengatakan, "

Pendapat Ando itu aneh don tidak masuk akal

." Contoh lain, tanggapan "

Hm... menarik sekali kamu bisa memberi jawaban itu. Tapi jawabanku agak berbeda....

" akan lebih menghargai orang lain daripada vonis seperti, "

Jawabanmu itu solah. Harusnya begini

." Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok ini jugs merupakan proses panjang. Pembelajar tidak bisa diharapkan langsung menjadi komunikator yang handal dalam waktu sekejap. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar serta membina perkembangan mental emosional para siswa.

e. Evaluasi

Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelaiar terlibat dalam kegiatan pembelajaran Cooperative Learning.

sumber : ellasmk.blogspot.com

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

Kisi-kisi Uji Tulis PLPG

Dalam Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008, Pasal 12 ayat (5) dinyatakan  bahwa  peserta  sertifikasi melalui  penilaian  portofolio yang belum mencapai persyaratan uji kompetensi untuk memperoleh Sertifikat Pendidik diberi kesempatan untuk: (a) melengkapi persyaratan portofolio, atau (b) mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang diakhiri dengan uji kompetensi.

Kisi-kisi uji tulis PLPG disusun oleh tim yang terdiri dari para dosen yang  mewakili  seluruh rayon LPTK. Kisi-kisi uji tulis PLPG merupakan acuan bagi rayon LPTK dalam menyusun bahan ajar dan pembuatan soal uji  tulis PLPG. Dengan kisi-kisi, diharapkan dapat mendorong pembelajaran yang mengaplikasikan prinsip student center dengan menggunakan multi media dan multi metode yang berbasis pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).

Materi ujian tulis terdiri dari tiga (3) komponen, yakni:

  • (1) pengembangan profesionalisme guru, Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dan Karya Tulis Ilmiah (KTI),
  • (2) pedagogik yang terkait dengan mata pelajaran,  dan
  • (3) kompetensi profesional atau penguasaan mata pelajaran/bidang keahlian.

Secara berturut-turut, proporsi dari ketiga komponen itu adalah 30% (60 menit), 20% (40 menit), dan 50% (100 menit).

Berikut Kisi-kisi PLPG yang siap diunduh:

01.Kisi2 PLPG Profesional-Guru-PTK-KTI

02.Kisi2-PLPG-TK

03.Kisi2-PLPG-SD

04.Kisi2-PLPG-PLb

5a.Pengantar-Kisi2-PLPG-BK

5b.Kisi2-PLPG-Bk

6a.Kisi2-PLPG-Penjas-Profesional

6b.Kisi2-PLPG-Penjas-Pedagogik

07.Kisi2-PLPG-Bhs-Inggris

08.Kisi2-PLPG-Bhs-Indonesia

9a.Kisi2-PLPG-MM-Profesional

9b.Kisi2-PLPG-MM-Pedagogik

10.Kisi2-PLPG-Biologi

11.Kisi2-PLPG-Fisika

12.Kisi2-PLPG-Kimia

13.Kisi2-PLPG-IPA

14.Kisi2-PLPG-Geografi

15.Kisi2-PLPG-PKN

16.Kisi2-PLPG-Sejarah

17.Kisi2-PLPG-Sosiologi

18.Kisi2-PLPG-Ekonomi

19.Kisi2-PLPG-IPS

20.Kisi2-PLPG-Akuntansi

21.Kisi2-PLPG-Adm-Perkantoran

23.Kisi2-PLPG-TIK

22.Kisi2-PLPG-Kewirausahaan

24.Kisi2-PLPG-Teknik-Kendaraan-Ringan

Dokumen lain juga siap diunduh

1. Buku Pedoman/Panduan

2. Format/Blangko Isian

3. Pedoman untuk dosen

4. Dokumen dalam format tanya jawab

 

sumber : tunas63

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

03 October 2011 | 10:17 AM | 0 Comments

Pendekatan Pembelajaran Konvensional

image Ardhana, et al (2004), dari hasil survei terhadap beberapa SD di Buleleng (Bali) dan Kota Malang menemukan bahwa 80% guru menyatakan paling sering menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran sains. Sedangkan dari pandangan siswa, 90% menyampaikan bahwa gurunya mengajar dengan cara menerangkan, 58,8% berpendapat dengan cara memberikan PR, dan 43,6% menyampaikan dengan cara meringkas, serta jarang sekali melakukan pengamatan di luar kelas. Terkait dengan temuan ini, kegiatan mengajar yang dilakukan oleh para guru tersebut merupakan aktivitas menyimpan informasi dalam pikiran siswa yang pasif dan dianggap kosong. Siswa hanya menerima informasi verbal dari buku-buku dan guru atau ahli.

Pengemasan belajar dan pembelajaran seperti tersebut di atas dalam beberapa tulisan (Dunlap & Grabinger, 1996; Grabinger, 1996; Goodman & Kuzmic, 1997; Johnson, 2002; Wilson, 1996) diistilahkan sebagai pembelajaran konvensional atau tradisional.

Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka.

Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran berpusat pada guru, (2) terjadi passive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4) tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan (5) penilaian bersifat sporadis. Menurut Brooks & Brooks (1993), penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.

Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam perkataan lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode ceramah dan/atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh materi yag ada dalam kurikulum. Penekanan aktivitas belajar lebih banyak pada buku teks dan kemampuan mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut. Jadi, pembelajaran konvensional kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities).

Berdasarkan definisi atau ciri-ciri tersebut, penyelenggaraan pembelajaran konvensional merupakan sebuah praktik yang mekanistik dan diredusir menjadi pemberian informasi. Dalam kondisi ini, guru memainkan peran yang sangat penting karena mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar (pebelajar). Dengan kata lain, penyelenggaraan pembelajaran dianggap sebagai model transmisi pengetahuan (Tishman, et al., 1993). Dalam model ini, peran guru adalah menyiapkan dan mentransmisi pengetahuan atau informasi kepada siswa. Sedangkan peran para siswa adalah menerima, menyimpan, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi yang diberikan.

Pembelajaran yang didasarkan pada asumsi-asumsi menurut model transmisi memandang bahwa pengetahuan terdiri dari potongan-potongan fakta (O’Malley & Pierce, 1996). Siswa mempelajari pengetahuan atau keterampilan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Diasumsikan bahwa penguasaan terhadap pengetahuan atau keterampilan yang kompleks dapat dicapai secara langsung apabila siswa sebelumnya telah mempelajari bagian-bagian pengetahuan tersebut (Oliver & Hannafin, 2001). Dalam kondisi ini para siswa harus secara cepat dan seksama melalui aktivitas-aktivitas mendengarkan, membaca, dan mencatat untuk memperoleh informasi. Terkadang para siswa perlu juga melakukan aktivitas laboratorium dan/atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan informasi tersebut. Di sisi lain, guru berperan memproses pengetahuan dan/atau keterampilan yang diperlukan para siswa. Terhadap pemrosesan pengetahuan atau keterampilan tersebut, guru terkadang perlu menambahkan penguatan berupa gambar, simbol, tabel, atau jenis yang lain sebagai sumber belajar. Sumber belajar tersebut sebagian besar sifatnya tekstual (bukan kontekstual).

Sumber belajar dalam pendekatan pembelajaran konvensional lebih banyak berupa informasi verbal yang diperoleh dari buku dan penjelasan guru atau ahli. Sumber-sumber inilah yang sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Oleh karena itu, sumber belajar (informasi) harus tersusun secara sistematis mengikuti urutan dari komponen-komponen yang kecil ke keseluruhan (Herman, et al., 1992; Oliver & Hannafin, 2001) dan biasanya bersifat deduktif. Oleh sebab itu, pembelajaran diartikulasikan menjadi tujuan-tujuan berupa prilaku yang diskrit. Apa yang terjadi selama proses belajar dan pembelajaran jauh dari upaya-upaya untuk terjadinya pemahaman. Siswa dituntut untuk menunjukkan kemampuan menghafal dan menguasai potongan-potongan informasi sebagai prasyarat untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks. Artinya bahwa siswa yang telah mempelajari pengetahuan dasar tertentu, maka siswa diharapakan akan dapat menggabungkan sub-sub pengethauan tersebut untuk menampilkan prilaku (hasil) belajar yang lebih kompleks. Berdasarkan pandangan ini, pembelajaran konvensional merupakan aktivitas belajar yang bersifat linier (O’Malley & Pierce, 1996) dan deterministik (Burton, et al., 1996).

Pembelajaran yang bersifat linier didesain dengan kerangka kerja berupa serangkaian aktivitas belajar dalam suatu tata urutan yang sistematis dan hasil belajar (berupa prilaku) yang dapat ditentukan secara pasti (deterministik) serta teramati. Beberapa prinsip yang melatar belakangi desian pembelajaran linier adalah: (1) mengidentifikasi dan merumuskan tujuan pembelajaran, (2) hasil belajar yang diharapkan harus terukur serta sesuai dengan standar validitas dan reliabilitas, dan (3) desain berorientasi pada perubahan tingkah laku pebelajar.

Berdasarkan prinsip desain pembelajaran tersebut di atas, maka prosedur pembelajaran konvensional yang diimplementasikan dalam penelitian ini disusun mengikuti urutan-urutan sebagai berikut: (1) mengidentifikasi indikator keberhasilan, yang selanjutnya dituangkan menjadi tujuan pembelajaran, (2) merancang dan menyusun isi bahan ajar konvensional (teks ajar dan LKS), (3) merancang dan menyusun instrumen tes untuk mengukur hasil belajar (pemahaman konsep dan ketertampilan berpikir kritis), (4) merancang dan menyusun skenario pembelajaran, (5) mengimplementasikan program pembelajaran, dan (6) melaksanakan evaluasi. Implementasi program pembelajaran terdiri dari langkah-langkah, yaitu (a) apersepsi, (b) penjelasan konsep, dengan metode ceramah dan/atau demonstrasi, (c) latihan terbimbing, (d) memberikan balikan (feed back). Keseluruhan pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran ini menggunakan latar (seting) belajar diskusi kelompok-kelompok kooperatif.

Milik dan karya: I Wayan Sukra Warpala

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran

oleh: Akhmad Sudrajat

pengertian strategi pembelajaranDalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran23

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

==========

Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.
 

Tips Tingkatkan jumlah pengunjung Blog, melalui doorwaypage.com

Online users :

JavaScript Free Code

Posisi Nomor Kartu Seluler »

Ceebydith HLR Lookup

Pengikut »

free counters

About this Blog »

Berisikan tautan dari berbagai sumber internet tentang : media pendidikan, model-model pembelajaran, motode pembelajaran, strategi belajar mengajar, evaluasi pembelajaran, assesment outentik, penelitian pendidikan, metode penelitian, penelitian tindakan kelas, kurikulum, dan lain-lain terkait lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Isi di dalamnya bukan semuanya ditulis oleh admin education zone, tetapi dari berbagai rujukan atikel yang didapat dari internet yang terkait dengan materi pendidikan, dengan maksud untuk memudahkan bagi yang memerlukan materi tentang penyiapan tenaga pendidik dalam pengembangan ilmu pendidikan, untuk itu kami mohon ma'af bagi yang artikelnya kami muat disini, yang jelas kami tetap menampilkan link sumber aslinya (backlink) dan terima kasih semuanya.

Pembelajaran »

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Copyright © 2010 - All right reserved by Education Zone | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.