Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Dharma Pendidikan Kompasiana MSN Indonesia Bisnis Indonesia Kompas Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Hariyono.org Education Zone Teknologi Informasi Ekonomi Mikro Ekonomi Makro Perekonomian Indonesia KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Materi Umum Kampus # # #
mandikdasmen Depdiknas Kemdiknas BSNP Kamus Bhs Indonesia BSNP # # # # #
Affiliate Marketing Info Biz # # # # # # # # #
Bisnis Online Affilite Blogs Affiliate Program Affiliate Marketing # # # # # # # # #

Kiki sekarang menggunakan internet untuk menghasilkan lebih banyak uang cukup dengan melakukan survei online untuk perusahaan-perusahaan internasional. Saya melakukan wawancara dengannya tentang kisahnya yang menakjubkan dan dia mengungkapkan langkah-langkahnya menuju sukses. Survey Income Kid.


Showing posts with label Metode Pengajaran. Show all posts
Showing posts with label Metode Pengajaran. Show all posts

03 October 2011 | 10:17 AM | 0 Comments

Pendekatan Pembelajaran Konvensional

image Ardhana, et al (2004), dari hasil survei terhadap beberapa SD di Buleleng (Bali) dan Kota Malang menemukan bahwa 80% guru menyatakan paling sering menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran sains. Sedangkan dari pandangan siswa, 90% menyampaikan bahwa gurunya mengajar dengan cara menerangkan, 58,8% berpendapat dengan cara memberikan PR, dan 43,6% menyampaikan dengan cara meringkas, serta jarang sekali melakukan pengamatan di luar kelas. Terkait dengan temuan ini, kegiatan mengajar yang dilakukan oleh para guru tersebut merupakan aktivitas menyimpan informasi dalam pikiran siswa yang pasif dan dianggap kosong. Siswa hanya menerima informasi verbal dari buku-buku dan guru atau ahli.

Pengemasan belajar dan pembelajaran seperti tersebut di atas dalam beberapa tulisan (Dunlap & Grabinger, 1996; Grabinger, 1996; Goodman & Kuzmic, 1997; Johnson, 2002; Wilson, 1996) diistilahkan sebagai pembelajaran konvensional atau tradisional.

Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka.

Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran berpusat pada guru, (2) terjadi passive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4) tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan (5) penilaian bersifat sporadis. Menurut Brooks & Brooks (1993), penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.

Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam perkataan lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode ceramah dan/atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh materi yag ada dalam kurikulum. Penekanan aktivitas belajar lebih banyak pada buku teks dan kemampuan mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut. Jadi, pembelajaran konvensional kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities).

Berdasarkan definisi atau ciri-ciri tersebut, penyelenggaraan pembelajaran konvensional merupakan sebuah praktik yang mekanistik dan diredusir menjadi pemberian informasi. Dalam kondisi ini, guru memainkan peran yang sangat penting karena mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar (pebelajar). Dengan kata lain, penyelenggaraan pembelajaran dianggap sebagai model transmisi pengetahuan (Tishman, et al., 1993). Dalam model ini, peran guru adalah menyiapkan dan mentransmisi pengetahuan atau informasi kepada siswa. Sedangkan peran para siswa adalah menerima, menyimpan, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi yang diberikan.

Pembelajaran yang didasarkan pada asumsi-asumsi menurut model transmisi memandang bahwa pengetahuan terdiri dari potongan-potongan fakta (O’Malley & Pierce, 1996). Siswa mempelajari pengetahuan atau keterampilan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Diasumsikan bahwa penguasaan terhadap pengetahuan atau keterampilan yang kompleks dapat dicapai secara langsung apabila siswa sebelumnya telah mempelajari bagian-bagian pengetahuan tersebut (Oliver & Hannafin, 2001). Dalam kondisi ini para siswa harus secara cepat dan seksama melalui aktivitas-aktivitas mendengarkan, membaca, dan mencatat untuk memperoleh informasi. Terkadang para siswa perlu juga melakukan aktivitas laboratorium dan/atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan informasi tersebut. Di sisi lain, guru berperan memproses pengetahuan dan/atau keterampilan yang diperlukan para siswa. Terhadap pemrosesan pengetahuan atau keterampilan tersebut, guru terkadang perlu menambahkan penguatan berupa gambar, simbol, tabel, atau jenis yang lain sebagai sumber belajar. Sumber belajar tersebut sebagian besar sifatnya tekstual (bukan kontekstual).

Sumber belajar dalam pendekatan pembelajaran konvensional lebih banyak berupa informasi verbal yang diperoleh dari buku dan penjelasan guru atau ahli. Sumber-sumber inilah yang sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Oleh karena itu, sumber belajar (informasi) harus tersusun secara sistematis mengikuti urutan dari komponen-komponen yang kecil ke keseluruhan (Herman, et al., 1992; Oliver & Hannafin, 2001) dan biasanya bersifat deduktif. Oleh sebab itu, pembelajaran diartikulasikan menjadi tujuan-tujuan berupa prilaku yang diskrit. Apa yang terjadi selama proses belajar dan pembelajaran jauh dari upaya-upaya untuk terjadinya pemahaman. Siswa dituntut untuk menunjukkan kemampuan menghafal dan menguasai potongan-potongan informasi sebagai prasyarat untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks. Artinya bahwa siswa yang telah mempelajari pengetahuan dasar tertentu, maka siswa diharapakan akan dapat menggabungkan sub-sub pengethauan tersebut untuk menampilkan prilaku (hasil) belajar yang lebih kompleks. Berdasarkan pandangan ini, pembelajaran konvensional merupakan aktivitas belajar yang bersifat linier (O’Malley & Pierce, 1996) dan deterministik (Burton, et al., 1996).

Pembelajaran yang bersifat linier didesain dengan kerangka kerja berupa serangkaian aktivitas belajar dalam suatu tata urutan yang sistematis dan hasil belajar (berupa prilaku) yang dapat ditentukan secara pasti (deterministik) serta teramati. Beberapa prinsip yang melatar belakangi desian pembelajaran linier adalah: (1) mengidentifikasi dan merumuskan tujuan pembelajaran, (2) hasil belajar yang diharapkan harus terukur serta sesuai dengan standar validitas dan reliabilitas, dan (3) desain berorientasi pada perubahan tingkah laku pebelajar.

Berdasarkan prinsip desain pembelajaran tersebut di atas, maka prosedur pembelajaran konvensional yang diimplementasikan dalam penelitian ini disusun mengikuti urutan-urutan sebagai berikut: (1) mengidentifikasi indikator keberhasilan, yang selanjutnya dituangkan menjadi tujuan pembelajaran, (2) merancang dan menyusun isi bahan ajar konvensional (teks ajar dan LKS), (3) merancang dan menyusun instrumen tes untuk mengukur hasil belajar (pemahaman konsep dan ketertampilan berpikir kritis), (4) merancang dan menyusun skenario pembelajaran, (5) mengimplementasikan program pembelajaran, dan (6) melaksanakan evaluasi. Implementasi program pembelajaran terdiri dari langkah-langkah, yaitu (a) apersepsi, (b) penjelasan konsep, dengan metode ceramah dan/atau demonstrasi, (c) latihan terbimbing, (d) memberikan balikan (feed back). Keseluruhan pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran ini menggunakan latar (seting) belajar diskusi kelompok-kelompok kooperatif.

Milik dan karya: I Wayan Sukra Warpala

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran

oleh: Akhmad Sudrajat

pengertian strategi pembelajaranDalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran23

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

==========

Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

03 April 2011 | 11:29 PM | 0 Comments

PENDIDIKAN UNTUK ANAK AUTIS

images 2

A.        PENDAHULUAN

Semakin banyaknya gejala gangguan autis pada anak, menimbulkan keprihatinan bagi orang tua, bidang kesehatan dan juga pendidikan. Segala upaya telah dicoba oleh berbagai pihak untuk membantu anak penyandang gangguan autis. Salah satu upaya yang telah banyak dilakukan adalah dengan mendirikan pusat-pusat terapi autis dan sekolah-sekolah untuk anak berkebutuhan khusus ini. Tujuannya adalah untuk membentuk perilaku positif dan mengembangkan kemampuan lain yang terhambat, misalnya bicara, kemampuan motorik dan daya konsentrasi.

Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan 3 ciri pokok, yaitu terganggunya perkembangan interaksi sosial, bahasa dan wicara, serta munculnya perilaku yang bersifat repetitif, restriktif, stereotipik dan obsesif. Walaupun sampai saat ini belum ditemukan adanya proses atau penyebab tunggal timbulnya autisme, namun beberapa bagian otak seperti amigdala, hipokampus, sistema limbik, serebelum dan korteks serebri mengalami gangguan perkembangan histokimia sampai anatomik. Belum ada obat atau cara apapun untuk menyembuhkan autisme. Namun demikian “performance” anak bisa dtingkatkan dengan mengembangkan potensi dasar yang telah dimilikinya.(1)

B.         PENYEBAB AUTIS

images 1

Autisme merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang berat dan luas. Terjadi pada anak dalam tiga tahun pertama kehidupannya. Namun masalah ini bisa mulai sejak janin enam bulan dalam kandungan. Penyandang autisme bisa terus berlanjut selama masa hidupnya, jika tidak segera dilakukan intervensi secara dini. (2)

Salah satu penelitian terbaru mengenai autisme menemukan para penderita autis memiliki gen umum dengan variasi yang berbeda. Temuan gen tersebut nantinya bisa memudahkan diagnosis dan mengembangkan terapi serta pencegahan terjadinya autisme pada anak.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal Nature ini membandingkan gen dari ribuan penderita autisme dengan ribuan orang normal. Hasil dari penelitian menunjukkan, sebagian besar penderita autisme memiliki variasi genetik dari DNA mereka yang berpengaruh pada hubungan antarsel otak.

Para peneliti juga mengungkapkan adanya hubungan antara autisme dengan ‘kesalahan kecil’ pada segmen DNA yang terdapat sel komunikasi di dalamnya.(3)

C.         AUTIS DI INDONESIA

Jumlah penyandang autisme semakin hari makin banyak. Sebelum tahun 1990, diperkirakan hanya dua hingga lima penyandang untuk tiap 10 ribu kelahiran. Tahun 1990 an meningkat menjadi hingga empat kali lipat. Data terakhir dua tahun lalu dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menunjukkan angka lebih besar. Sekitar 60 penderita dalam 10 ribu kelahiran. Di wilayah Amerika, angkanya lebih mengkhawatirkan. Saat ini dari 100 kelahiran, seorang diantaranya mengalami autisme. Sehingga di Amerika autisme dikatakan sebagai national alarming. (2)

Penderita autis di Indonesia setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari dalam pembukaan rangkaian Expo Peduli Autisme 2008 lalu mengatakan, jumlah penderita autis di Indonesia di tahun 2004 tercatat sebanyak 475 ribu penderita dan sekarang diperkirakan setiap 1 dari 150 anak yang lahir, menderita autisme.

Walaupun Autis telah ditemukan sejak tahun 1943, namun penyebab pasti akan gangguan yang diderita oleh kurang lebih 35 juta orang di seluruh dunia ini masih belum diketahui. Ketua Yayasan Autisme Indonesia (YAI) dr. Melly Budhiman mengatakan, di antara penyebabnya adalah faktor gaya hidup, polusi udara, narkotika, makanan yang tercemar limbah, misalnya ikan laut, dan sayuran yang masih mengandung pestisida.

Sebuah penelitian terbaru menitikberatkan pada kelainan biologis dan neurologis di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan.(4)

Dr Rudy Sutadi dari Perhimpunan Autisme Indonesia mengatakan, data statistik kelainan ini, anak laki-laki lebih besar kecenderungan terkena autisme di banding perempuan. “Sekitar empat dibanding satu,” katanya. Sebab pastinya memang belum bisa diketahui. Tetapi ada teori, anak perempuan hormon esterogen lebih banyak dibandingkan anak laki-laki. Hormon itu sendiri dalam perkembangannya melindungi otak dari berbagai hal yang bisa meracuninya.(2)

D. CIRI-CIRI ANAK AUTIS

images 5

Penyandang autisme memiliki gangguan pada komunikasi, interaksi sosial, serta aktivitas yang terbatas dan berulang-ulang. Mungkin juga terdapat masalah pada sensasi (hiper/hiposensitif pada panca indera), fungsi adaptif. Gangguan ini akan terus terakumulasi hingga dewasa. Tidak heran jika penyandang autisme perkembangannya tertinggal jauh dibanding anak normal sebaya.

Menurut Power (1989), karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang interaksi sosial, komunikasi (bahasa dan bicara), perilaku serta emosi dan pola bermain, gangguan sensoris, dan perkembangan terlambat atau tidak normal. Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil, biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.

Secara lebih jelas dapat dituliskan sifat-sifat yang kerap ditemukan pada anak autis. Diantaranya adalah sulit bergabung dengan anak-anak yang lain, tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya, menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata, menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri, lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidka membentuk hubungan pribadi yang terbuka, memutar benda, terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik, memiliki fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang aktif, dan sebagainya.

Hubungan dengan orang

a)      Tidak responsif

b)      Tidak ada senyum sosial

c)      Tidak berkomunikasi dengan mata

d)     Kontak mata terbatas

e)      Tampak asyik bila dibiarkan sendirian

f)       Tidak melakukan permainan giliran

g)      Menggunakan tangan orang dewasa sebagai alat untuk melakukan sesuatu

Bahasa dan Komunikasi

a)      Ekspresi Wajah datar

b)      Tidak menggunakan bahasa atau isyarat tubuh

c)      Jarang memulai komunikasi

d)     Tidak meniru aksi dan suara

e)      Bicara sedikit atau tidak ada

f)       Mengulangi atau membeo kata-kata, kalimat secara berulang-ulang

Hubungan dengan lingkungan

a)      Bermain repetitif atau diulang-ulang

b)      Marah dan tidak menghendaki perubahan

c)      Berkembangnya rutinitas yang kaku

d)     Memperlihatkan ketertarikan yang sangat pada sesuatu dan tidak fleksibel

Respon terhadap rangsangan

a)      Panik terhadap suara-suara tertentu

b)      Sangat sensitif terhadap suara

c)      Bermain dengan cahaya dan pantulan

d)     Memainkan jari-jari di depan mata

e)      Menarik diri ketika disentuh

f)       Sangat tidak suka dengan pakaian, makanan, atau hal-hal tertentu

g)      Tertarik pada pola, tekstur, atau bau tertentu

h)      Sangat inaktif atau hiperaktif

i)        Mungkin suka memutar-mutar sesuatu, bermain berputar-putar, membentur-benturkan kepala, atau menggigit pergelangan

j)        Melompat-lompat atau mengepak-ngepakan tangan

k)      Tahan atau berespon aneh terhadap nyeri (5)

E. PENDIDIKAN UNTUK ANAK AUTIS

2785216p

Pendidikan bagi anak penyandang autis tidak sama dengan anak biasa. Kurikulum pendidikan yang disiapkan umumnya sangat individual.

Fakta bahwa anak Autis  belajar secara berbeda karena perbedaan neurobiologis bawaan mereka memberikan dampak pada tiga hal:

1.      Belajar menjadi tugas yang lebih berat bagi anak Autis

2.      Anak Autis  harus diajarkan dalam gaya yang ‘khusus’ bagi setiap individu, agar mereka bisa memahami materi dengan baik. Berarti, stimulus disampaikan dalam bentuk atau cara yang khusus
3.      Bila intervensi dilakukan lebih dini, maka perjuangan untuk mengajar anaka Autis ini diharapkan akan lebih mudah karena mereka sudah lebih tertata (tidak terlalu tantrum atau berperilaku negatif lainnya)(6)

Data yang dimiliki Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan, penyandang autis yang mengikuti pendidikan layanan khusus ternyata masuk lima besar dari seluruh peserta sekolah khusus.

Jumlah terbesar adalah penyandang tuna grahita (keterbatasan intelektual) berat dan ringan sebanyak 38.545 peserta, tuna rungu 19.199 peserta. Diikuti kemudian penyandang tuna netra 3.218 peserta, tuna daksa 1.920 peserta dan autis sebanyak 1.752 peserta.

Di Indonesia, sekolah yang khusus menangani autis berjumlah 1.752 sekolah. Lima besar provinsi yang paling banyak mendirikan sekolah autis adalah Jawa Barat sebanyak 402 sekolah, Jawa Timur 263 sekolah, Daerah Istimewa Yogyakarta 131 sekolah. Kemudian diikuti Sumatera Barat dan DKI Jakarta yang masing-masing memiliki 111 sekolah untuk penyandang autis.

Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional Eko Djatmiko Sukarso menyatakan, UU Sisdiknas No20 Tahun 2003 mengamanatkan kepada pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan bagi semua masyarakat. “Pemerintah mengakui dan melaksanakan pendidikan khusus (PK) dan pendidikan layanan khusus (PLK) bagipenyandangautis,” sebutnya.

Semua hal yang terkait dengan pembelajaran untuk anak-anak autis berpedoman pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Namun begitu, Eko mengatakan, Diknas memberikan kebebasan kepada masing-masing sekolah untuk menentukan kurikulum bagi penyandang autis. Ini disebabkan setiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeda dalam mendidik penyandang autis.

Awal Psikolog dari sekolah khusus autis “Mandiga” di Jakarta, Dyah Puspita menyatakan, kurikulum autis harus dibuat berbeda-beda untuk setiap individu. Mengingat setiap anak autis memiliki kebutuhan berbeda. Ini sesuai dengan sifat autis yang berspektrum. Misalnya ada anak yang butuh belajar komunikasi dengan intensif, ada yang perlu belajar bagaimana mengurus dirinya sendiri dan ada juga yang hanya perlu fokus pada masalah akademis.

Penentuan kurikulum yang tepat bagi tiap-tiap anak, Dini Yusuf, pendiri homeschooluntuk anak autis “Kubis” di Jakarta mengatakan, bergantung dari assessment(penilaian) awal yang dilakukan tiap sekolah. Penilaian ini perlu dilakukan sebelum sekolah menerima anak autis baru. Biasanya, penilaian melalui wawancara terhadap kedua orangtuanya. Wawancara ini untuk mengetahui latar belakang, hambatan, dan kondisi lingkungan sosial anak.

Selain itu, penilaian awal ini juga melalui observasi langsung terhadap anak. Lamanya penilaian awal ini, menurut Dini,berbeda-beda.”Tetapi, dari sana, kami lalu menentukan jenis terapi dan juga kurikulum yang tepat buat sang anak,” ujarnya. Biasanya, terapi ini akan digabungkan dengan bermain agar lebih menyenangkan bagi anak autis.

Kepala Sekolah khusus autis, AGCA Centre Bekasi Ira Christiana, mengatakan, sekolahnya memiliki berbagai macam bentuk terapi bagi penyandang autis. Di antaranya, terapi terpadu, wicara, integritas, dan fisioterapi. “Terapi apa yang diberikan tergantung dari kondisi anaknya,” sebutnya.

Perlakuan terhadap penyandang autis di atas umur lima tahun berbeda dengan penyandang autis di bawah umur lima tahun. Terapi penyandang autis di atas umur lima tahun lebih kepada pengembangan bina diri agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. “Ini wajib hukumnya karena mereka sudah waktunya untuk sekolah,” ujar Ira.

Jika penyandang autis yang berumur di atas lima tahun belum bisa bersosialisasi sama sekali, maka akan diberikan pelatihan tambahan yang mengarah kepada peningkatan syaraf motorik kasar dan halus. Bagi penyandang yang sudah bisa bersosialisasi, maka akan langsung ditempatkan di sekolah reguler, dengan catatan mereka harus tetap mengikuti pelajaran tambahan di sekolah khusus penyandang autis.

Penyandang autis di bawah lima tahun diberikan terapi terpadu seperti terapi perilaku dan wicara. Terapi perilaku bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan, meniru, dan okupasi. Terapi wicara dimulai dengan melakukan hal-hal yang sederhana, seperti meniup lilin, tisu, melafalkan huruf A,dan melafalkan konsonan.

Hal lain yang patut dicermati, menurut Ira, adalah konsistensi antara apa yang dilakukan di sekolah dengan di rumah. Jika terdapat perbedaan yang mencolok,kemajuan anak autis akan sulit dicapai. Anak mengalami kebingungan atas apa yang ada pada lingkungannya. Untuk itu, diperlukan komunikasi intensif antara sekolah dan orangtua.(7)

ribbon-medium

REFERENSI

(1)   http://www.mediamedika.net/modules.php?name=Jurnal&file=index&a1=jurnal&a2=329&sort=&recstart=0

(2)   http://forum.detik.com/showthread.php?t=35582

(3)   http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/205-temuan-gen-penyebab-autisme

(4)   http://www.boleh.com/?mn=dtnews&s=hotspot&id=107

(5)   http://autistik.wordpress.com/

(6)   http://www.autisme.or.id/berita/article.php?article_id=52

(7)   http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/05/17/27/110062/kurikulum-khusus-penyandang-autis

sumber : blog.unnes

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

08 October 2010 | 1:23 AM | 0 Comments

Memahami KBK-SCL dan Implementasinya


Oleh:

Syamsul Arifin

P3AI-ITS

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera,

Semoga semuanya dalam keadaan damai & bahagia,

            Tidak terasa kurikulum kita sudah berjalan satu semester, kurikulum yang sering kita sebut sebagai kurikulum berbasis kompetensi (KBK), karena memang kurikulum tersebut dibangun dengan menggali kompetensi-kompetensi lulusan sesuai dengan scientific vision dan market signal. Kalau kemudian kita lihat Buku Pedoman Kurikulum ITS Tahun 2009-2014, pada pasal 11 telah dicanangkan kompetensi soft skill dan hard skill bagi lulusan D3,D4, S1,S2 dan S3, betapa berat dan sekaligus mulianya tugas mahasiswa dan dosen. Oleh karena itu dalam kegiatan pembelajaran sudah tidak cukup lagi hanya transfer of knowledge; dosen dalam satu semester lebih banyak mengajar dibandingkan mahasiswa beraktivitas belajar. Sehingga mengesankan pembelajaran terfokus pada kebutuhan mengajar dosen (teacher center learning-TCL), ngejar ‘setoran materi’, lupa kompetensi yang harus disasar mahasiswa. Pertanyaan yang sering muncul diantara dosen adalah materinya sudah sampai dimana?(bahkan dilembar monitoring yang biasanya disertakan di map absensi yang harus diisi dosen masih ‘hanya’ berisi materi sesuai minggu), bukannya pertanyaan; mahasiswa sudah bisa apa?,inilah salah satu ciri menonjol dari TCL.

Jika mengacu pada kompetensi soft skill dan hard skill yang harus dicapai oleh lulusan kita, maka model pembelajaran TCL tersebut sudah tidak cukup lagi, maka perlu diperkaya atau digeser pada ranah pembelajaran yang lebih melibatkan mahasiswa secara aktif. Melibatkan lebih dalam mahasiswa dalam pembelajaran dengan tujuan memberikan pengalaman pemaknaan pengetahuan (learning to constructing knowledge) , belajar berbuat (learning to do), belajar besikap (learning to be), dan belajar dalam keberagaman tim (learning to life together) . Dosen tidak hanya fokus pada materi yang diajarkan, tetapi juga sangat memperhatikan tingkatan kompetensi yang dicapai mahasiswa. Pertanyaan diantara dosen sekarang adalah mahasiswa sudah bisa apa (able to work…., able to apply….., able to explain…., act.)?. Pembelajaran yang berfokus pada pencapaian kompetensi mahasiswa dengan melibatkan mahasiswa secara mendalam, inilah yang kemudian sering disebut dengan student center learning (SCL). Tugas dosen dalam SCL tidak hanya dituntut berkemampuan mengajar saja, namun juga mempunyai kemampuan menfasilitasi kebutuhan/kesulitan belajar mahasiswa, memotivasi mahasiswa, menjadi inspirator utama, dan sekaligus menjadi evaluator yang jujur, terbuka, dan berkeadilan. Jadi tidak tepat jika model pembelajaran SCL ini dimaknai; bahwa yang sibuk belajar mahasiswa, sedangkan dosen hanya memberi materi, quis, ujian, dan santai-santai saja. Apa lagi kemudian dimaknai ; ‘saiki enak ngajar ghae SCL, awak dewe santai lan ngak usah UTS-UAS’, pernyataan ini makin juaaaaauh lagi dari pengertian SCL tsb diatas.

Beberapa pilar supaya pembelajaran SCL dapat berjalan dengan baik, diperlukan hal-hal sebagai berikut,

1. Rancangan Pembelajaran (RP),

Pentingnya RP :

· Sebagai panduan (guide) bagi mahasiswa belajar,

· Sebagai instrumen QA dalam proses pembelajaran & pencapaian kompetensi,

· Sebagai intrumen untuk melihat kesesuaian kompetensi, materi dan metode belajar mahasiswa,

· Sebagai salah satu instrumen untuk pengembangan institusi (prodi/jrs/fak/its) khususnya terkait dengan pembelajaran,

Unsur dalam RP :

· Peta Kompetensi,

· Rencana pembelajaran,

· Rencana evaluasi,

· Silabus,

· Kontrak kuliah.

Unsur dalam Rencana Pembelajaran (sesui PP No. 19 tahun 2005, Pasal 20):

· Tujuan pembelajaran matakuliah (MK)/Kompetensi,

· Bahan/Materi pelajaran,

· Metode pembelajaran,

· Sumber belajar,

· Asesmen,

Perlu ditambahkan ;

            · Indikator Pencapaian Kompetensi,

· Estimasi Waktu (sesuai dengan pengertian SKS,pada Peraturan Akademik ITS tahun 2009-2014, pasal-4 )

· Media Pembelajaran yang diperlukan oleh mahasiswa dan dosen.

Perlu digaris bawahi dengan sangat, bahwa kompetensi masing-masing MK, haruslah in-line dengan kompetensi yang telah ditentukan oleh prodi/jurusan, dan kompetensi prodi/jurusan harus in-line dengan kompetensi yang telah ditetapkan oleh ITS. Sehingga nantinya pencapaian kompetensi masing-masing MK, akan dapat mencerminkan pencapaian kompetensi prodi/jurusan dan kompetensi yang ditetapkan ITS.

2. MONEV Implemetasi RP,

Monitoring diperlukan untuk menjamin bahwa proses pembelajaran telah berjalan dengan baik,

Evaluasi diperlukan untuk mengetahui kinerja RP dalam proses pembelajaran.

Jika RP setelah dievaluasi ternyata telah berkinerja dengan baik, maka RP tersebut dapat kita gunakan untuk pembelajaran semester depan. Jika kita dapati sebaliknya, RP kita belum berkinerja dengan baik, maka diperlukan tindakan rekonstruksi RP melalui evaluasi & penelitian pembelajaran (instructional research) oleh masing-masing dosen atau tim dosen (team lecture) yang ditugaskan. Sangat baik jika evaluasi proses pembelajaran berbasis RP ini dapat dilakukan pada tiap matakuliah dan diadakan pada akhir semester oleh setiap prodi/jurusan. Indikator yang dapat kita gunakan untuk mengetahui kinerja RP kita adalah nilai IP matakulia dan IPD. Karena IP matakuliah menggambarkan pencapaian akhir kompetensi belajar mahasiswa, sedangkan IPD menggambarkan proses pembelajaran yang telah terjadi.

3. Dosen yg kompeten,

Saya meminjam elemen-elemen kompetensi sesuai dengan panduan sertifikasi dosen (SERDOS), yakni dosen yang kompeten apabila pada dirinya bersemayam 4 atribut utama;

· Kompeten dalam pedagogic (tepatnya adalah androgogic-krn utk pembelajaran orang dewasa) ,

· Kompeten dalam bidang keilmuannya (profesional),

· Kompeten dalam hubungan social (dengan sesame dosen, mahasiswa dan komunitas keilmuannya),

· Kompeten secara pribadi (mempunyai sikap empaty-simpaty, interpersonal, intrapersonal,dll.).

Kalau itu tuntutannya bagi dosen yang kompeten, alangkah indahnya masa depan pendidikan kita, khususnya di ITS. Saya yakin tujuan pendidikan Maju, Cerdas dan Kompetitif yang dicanangkan MENDIKNAS, dan Cerdas, Amanah dan Kreatif yang dicanangkan ITS tidak akan sulit untuk dicapai. Walaupun saya masih menyisakan anggapan bahwa keadaan tersebut tidak akan selesai hanya karena telah lulus dari sertifikasi dosen, tetapi juga diperlukan sikap untuk terus mau belajar dan berubah, khususnya dimotori & diteladani oleh para GB & dosen-dosen yang telah tersertifikasi. Mohon maaf, saya tidak bermaksud mengatakan dosen yang belum tersertifikasi itu serta-merta tidak kompeten, sebab fakta bias kita lihat sehari-hari bahwa ada dosen atau kelompok dosen;

a. Telah tersertifikasi, dan memang kompeten dalam menjalankan tugasnya,

b. Telah tersertifikasi, dan belum kompeten dalam menjalankan tugasnya,

c. Belum tersertifikasi, namun sudah kompeten dalam menjalankan tugasnya,

d. Belum tersertifikasi, dan memang belum kompeten dalam menjalankan tugasnya.

Apapun kondisi dosen, khususnya dosen ITS, sebuah keniscayaan bahwa peranan dosen sangatlah penting dalam mencapai keberhasilan studi mahasiswa, bahkan menjadi pilar utama untuk membangunan peradaban bangsa yang tidak hanya berbasis intellectual capital namun juga pada spiritual capital.

Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Kaisar Jepang Hirohito, saat negaranya hancur lebur dalam perang dunia II, “Tidak apa-apa kita masih memiliki beberapa guru,……..”, …ya “guru” sebagai tiang utama pembangunan peradaban bangsa, setidaknya menurut sang kaisar.

4. Mahasiswa yg mempunyai motivasi,

Fakta mahasiswa yang masuk ke ITS adalah sudah lulus ujian sekolah, lulus UN, lulus tes masuk PT, bahkan di tes TPA dan Bahasa Inggris segala. Ini menunjukan bahwasanya standar minimum IQ calon mahasiswa untuk mengikuti jenjang pendidikan lebih lanjut di ITS telah terlampaui. Namun fakta juga masih ada saja mahasiswa yang terlambat dalam belajar, bingung apakah jurusan yang dipilih ini bisa memberikan pengharapan masa depan, dan apakah matakuliah yang sedang ditempuh juga bermanfaat bagi dirinya. Dengan indiator sederhana melihat IP mahasiswa yang masih ada (atau masih banyak?) nasakom (nilai satu koma). Saya melihat persoalan diatas tidak pada kemampuan IQ mahasiswa, tetapi lebih pada MOTIVASI mahasiswa yang rendah (low motivation). Menurut kaidah psikologi pendidikan, ‘mahasiswa yang tidak siap belajar adalah yang motivasinya rendah’. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang bertanggung jawab untuk membangkitkan motivasi belajar mahasiswa?, persis,… jawabnya adalah dosen, dosen dan dosen. Caranya bagaimana,

Bagi Dosen :

· Jelaskan bahwa MK yang akan dipelajari itu bermanfaat, tidak sekedar karena harus diambil,

· Jelaskan hal-hal menarik dari matakuliah tersebut, terkait dengan implementasi dalam kehidupan nyata (sering disebut dengan contextual learning),

· Gunakan beragam metoda pembelajaran; ya ada ceramahnya, penurunan rumus yang menarik, kunjungan lapangan, diskusi, berdebat yang beradab, presentasi, pameran poster, dll.

· Berusahalah menjadi dosen yang bersahabat bagi mahasiswa (kesetaraan komunikasi),

· Tumbuhkan rasa empati bagi mahasiswa yang sedang kesulitan belajar,bahwa mahasiswa mampu, jangan sekali-kali ‘bangga’ kalau MK kita dianggap sulit, apalagi bangga kalau mahasiswa rata-rata bernilai rendah atau tidak lulus di MK yang kita ampuh, sebab jika masih ada mahasiswa yang belum lulus, itu berarti pekerjaan kita (dosen) belum selesai,

· Sediakan waktu dosen bagi mahasiswa sesuai dengan definisi sks (1 sks = 50’ tatap muka + 50’ belajar terstruktur + 50’ belajara mandiri),

· Buka akses bagi mahasiswa untuk berkomunikasi, misalnya melalui hp, email, millis kelas MK, forum diskusi melalui eLearning-SHARE-ITS, dll., tentu sesuai dengan keperluan dan kesepakatan.

Bagi Mahasiswa :

· Mintalah dengan cara yang baik pada dosen untuk menjelaskan RP yang akan digunakan sebagai panduan belajar MK selama satu semester (sesuia Peraturan Akademik pasal-8, ayat-5),

· Buatlah catatan-catatan persiapan belajar khususnya terkait dengan metode belajar, materi, dan jadwal evaluasi (tugas, quis, ujian, presentasi, studio, praktikum, dll.),

· Jangan tunda untuk mengakses sumber-sumber atau bahan-bahan pelajaran,baik berupa buku, majalah, maupun alamat web tertentu yang terkait dengan MK, sesuia dengan penjelasan dosen,

· Segeralah sadari bahwa belajar MK yang sedang ditempuh, pelaku utamanya adalah Anda, artinya mahasiswa belajar bukan saja karena dosen mengajar, namun utamanya adalah untuk mencapai tujuan (kompetensi) yang telah direncanakan dan disepakati,

· Jalinlah komunikasi yang baik dengan dosen Anda, buat kesepakatan-kesepakatan dengan dosen Anda terkait waktu dan cara berkomunikasi,

· Jika menurut perasaan Anda materi tidak menyenangkan, dosen membosankan, jadwal kuliah yang tidak tepat, segeralah berkonsultasi pada dosen wali Anda untuk memecahkan persoalan tersebut, jangan terlambat !!!,

· Apapun agama Anda, berdoalah sebelum belajar, karena ini cara komunikasi dengan Sang Pencipta, yang hasilnya bisa jadi tidak terduga-duga untuk merubah segala hal menjadi lebih baik.

5. Sumber belajar yang berkecukupan,

Sumber belajar yang kita kenal selama ini disamping dosen adalah buku referensi, buku ajar, diktat, modul ajar, lecture note, slide ppt, web eLearning, dll. Sifat yang harus melekat pada sumber belajar adalah mudah diakses mahasiswa dan berkecukupan untuk mencapai kompetensi MK.

6. Sarana belajar yang berkesesuaian.

Tidak selalu kecanggihan sarana belajar menjadi pertimbangan untuk digunakan dalam pembelajaran. Karakter atau sifat terpenting dari sarana belajar adalah kesesuaian dan dikuasai oleh dosen dan mahasiswa. Sebagai contoh, pada saat kita akan menjelaskan bagaimana menyelesaikan PD (persamaan differensial) untuk menjelaskan fenomena fluida, maka menggunakan papan tulis masih lebih baik, karena dengan papan tulis kita bisa menjelaskan proses bagaimana PD tersebut diselesaikan. Sedangkan untuk melihat fenomena laminar dan turbulen fluida, media belajar yang cocok ya menggunakan simulator tidak cukup hanya dengan papan tulis. Yang perlu kita perhatikan bahwasanya fasilitas belajar yang berada di kelas-kelas itu menjadi ujung tombak dalam pembelajaran. Keberadaan papan tulis yang baik, LCD-Komputer, node jaringan intranet/internet, WiFi yang kuat, kelas dengan pencahayaan & penghawaan yang baik, bagi PT sekelas ITS sudah menjadi keniscayaan (default).

Kata Kunci :

RP-MK dibuat & dijelaskan pada mahasiswa,

MONEV – dijalankan,

DOSEN – Kompeten,

MAHASISWA – mempunyai MOTIVASI tinggi,

Sunber Belajar – berkecukupan & mudah diakses,

Sarana Belajar – berkesesuaian & dikuasai.

Demikian tulisan ini saya akhiri, semoga bermanfaat untuk mengawali semester genap 2010, semoga ‘tangan-tangan’ kita semua menjadi salah satu penentu bagi kejayaan ITS saat ini dan saat yang akan datang.

Guru (dosen) yang biasa, berbicara logis

Guru (dosen) yang bagus, menginspirasi

Guru (dosen) yang hebat, menjadi teladan

Guru (dosen) yang agung, membebaskan

(diolah dari William Athur Ward, Jurnalis)

sumber : http://p3ai.its.ac.id
Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

08 April 2010 | 1:05 PM | 0 Comments

Lesson studi

Oleh : Dr. Rahmat, M.Pd

Apakah Lesson studi ?

Istilah lesson study diambil dari bahasa Jepang jugyokenkyuu yang digunakan oleh Makoto Yoshida yang berarti penelitian mengenai belajar atau ‘research lesson’ (RBS Currents, Spring/ Summer 2002). Pada dasarnya istilah ini digunakan Jepang dalam mengembangkan profesionalisme guru dengan tujuan tercapainya pengembangan kemampuan mengajar secara berkelanjutan agar siswa dapat meningkatkan kemampuan belajarnya. Yang menjadi fokus perhatian dalam kegiatan adalah bagaimana siswa berpikir dan belajar.

Lesson Study merupakan bagian dari proses pembinaan profesi yang guru-guru Jepang lakukan melalui pengujian secara sistematis dengan cara mengamati pelaksanaan belajar dalam kelas. Tujuannya adalah meningkatkan efektivitas belajar siswa. Dalam melakukan pengamatan beberapa guru berkolaborasi dalam kelompok kecil. Seluruh anggota tim terlibat dalam perencanaan, melaksanaan pembelajaran, mengoboservasi, dan mengamati dengan kritis cara belajar. (http://www.tc.columbia.edu/ lessonstudy/lessonstudy.html; 2007)

Menurut Jim Stigler dan James Hiebert (http://www.aft.org/teachers/ downloads/lesson_study.pdf, 2007) berbeda dengan model pengembangan professional lain karena kegiatan itu langsung dikaitkan pada kegiatan belajar mengajar. Dijelaskannya bahwa yang menjadi fokus perhatian adalah kegiatan mengajar bukan guru; siswa belajar bukan produk belajar siswa. Sukses lesson study diukur dengan indikator guru belajar, bukan dari seberapa keterpenuhan syarat kegiatan belajar. Kesempurnaan kegiatan mengukur bagaimana proses bukan pada tujuan. Sukses guru dalam bekerja kelompok ditentukan oleh keberhasilan merumuskan perencanaan, pengamatan, dan membahas data hasil pengamatan.

Manfaat Lesson Studi

Kegiatan lesson study bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan professional guru. Yang menarik dalam kegiatan ini adalah memanfaatkan kepakaran para guru melalui kegiatan kerja sama untuk memperbaiki kinerja mengajar dengan memanfaatkan hasil pengamatan pelaksanaan tugas mengajar dalam pelaksanaan tugas yang sesungguhnya.

Dengan melaksanakan kerja sama memperbaiki pelaksanaan tugas pada level sekolah yang dilaksanakan langsung oleh para guru akan sangat bermanfaat karena akan mengurangi tingkat kebergantungan para guru dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan terbaiknya melalui peningkatan pemahaman terhadap efektivitas kinerja belajar siswa.

Lesson study menjadi penting karena kegiatan itu bermanfaat meningkatkan kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran, meningkatkan keterampilan merencanakan pembelajaran, meningkatkan keterampilan menerapkan metode dan pelaksanaan pembelajaran secara umum, meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan pengamatan terhadap siswa yang sedang melaksanakan belajar, meningkatkan kemampuan kerja sama dengan teman sejawat serta dengan memperluas jaringan kerja, memperbaiki kinerja melalui pelaksanaan tugas sehari-hari dan membuka isolasi kelas sehingga peningkatan kemampuan diperoleh dengan tidak mengurangi hak siswa untuk mendapat pelayanan belajar.

Lebih jauh lagi, dengan melaksanakan pengamatan yang terencana guru memperoleh data tentang kegiatan belajar siswa dalam kelas sehingga dapat mengolahnya menjadi informasi yang berguna untuk menyusun karya tulis dalam bentuk penelitian tindakan kelas.

Perencanaan Lesson Studi

Dalam melakukan kegiatan kelompok guru bersama-sama mempersiapkan kegiatan secara sistematis dan terperinci dengan pentahapan sebagai berikut;

1. Membentuk kelompok peneliti kegiatan belajar;

2. Menentukan judul dan tujuan penelitian;

3. Merencanakan penelitian siswa belajar;

4. Menghimpun data pelaksanaan belajar;

5. Menganalisis data pelaksanaan belajar;

6. Mengulang seluruh proses penelitian;

7. Melaksanakan kegiatan tindak lanjut; kulminasi

Dalam melaksanakan kegiatannya guru fokus pada tujuan yang jelas. Untuk keperluan itu guru perlu menyusun sejumlah pertanyaan penelitian yang terkait dengan indikator pencapaian tujuan.

Contoh:

1. Apa yang ingin guru ketahui dari proses pelaksanaan kegiatan?

2. Kompetensi belajar siswa yang mana yang akan menjadi fokus perhatian?

3. Apa yang siswa butuhkan selama pelajaran berlangsung?

Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas maka guru perlu berpaling pada teori belajar, kurikulum, pokok bahasan, metode belajar, yang akan berproses selama pelaksanaan belajar berlangsung.

Pembentukan Kelompok Penelitian

Pelaksanaan lesson study dapat dilakukan oleh sejumlah guru yang membentuk kelompok baik yang berasal dari satu sekolah maupun dari lintas sekolah. Dalam pelaksanaannya juga dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran sejenis maupun gabungan berbagai mata pelajaran, atau gabungan guru-guru yang mengajar pada berbagi tingkatan. (http://www.tc.edu/ lesson studi/faqs.html)

Pada saat guru yang hadir berasal dari berbagai sekolah, maka dapat diperoleh keuntungan dalam membentuk jalinan kerja sama lintas sekolah yang luas sehingga alternatif pemikiran akan menjadi lebih variatif. Namun demikian, dengan pertemuan sekelompok guru yang berasal dari satu sekolah pun juga dapat meningkatkan kerja sama antar guru baik dalam satu tingkatan maupun antar tingkatan.

Disarankan setiap kelompok terdiri atas 4-6 guru, namun lebih sedikit dari itu pun tidak menjadi masalah. Setiap kelompok menurut pengalaman akan bekerja antara 2-4 minggu. Dan, tiap kelompok akan bertemu paling banyak 3 atau dua kali dalam setahun. Dengan adanya variasi pertemuan dalam ruang lingkup satu sekolah dan ruang lingkup kerja sama sistem sekolah, maka akan terbuka banyak peluang bagi guru untuk bekerja sama merencanakan, melaksanakan, dan mendiskusikan peningkatan kompetensi pedagogic dan professional secara berkala.

Untuk memperoleh tingkat keterlatihan guru meningkatkan strategi pelaksanaan pembelajaran, maka perlu diusahakan agar setiap anggota kelompok memiliki pengalaman melaksanakan tugas dalam kelompok secara variatif yang direncanakan dengan jelas sehingga setiap orang tidak hanya piawai sebagai pengamat, namun menguasai keterampilan terbaik mengelola pembelajaran.

Siapa Yang Dapat Berpartisipasi Selain Guru ?

Guru-guru Jepang tempat ide pengembangan lesson study bermula yakin benar bahwa kinerja kolektif lebih baik daripada hasil kerja sendiri-sendiri. Mereka percaya bahwa untuk memperbaiki kinerja dalam pelaksanaan tugas harus melalui kerja sama (Westheimer, 1998). Itulah sebabnya keterbukaan setiap individu untuk melakukan kerja sama terbuka lebar. Kerja sama dapat dilakukan tidak hanya dengan guru namun juga dengan pemangku kepentingan lain.

Menurut pengalaman yang dilakukan di berbagai Negara, yang dapat mengikuti kegiatan ini ialah para kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan para pengawas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap usaha meningkatkan kemampuan profesi guru.

Pihak lain yang dapat berparitisipasi dalam kegiatan ini adalah para pakar yang diundang untuk turut mengamati atau memberikan saran-saran, pengarahan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan lesson studi.

Pihak lain yang dipandang perlu seperti pengurus komite sekolah sepanjang diperhitungkan dapat memberikan sumbangsih yang berharga bagi peningkatan kinerja mengajar sehingga dapat meningkatkan kinerja belajar siswa dapat menjadi pengamat kegiatan ini.

Judul dan Kerangka Penelitian

Yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan tujuan ialah tujuan pendidikan nasional yang merupakan unsur dasar yang perlu dikuasai guru. Menentukan tujuan khusus siswa belajar setelah melakukan seleksi secara menyeluruh terhadap kemungkinan tujuan yang dapat dirumuskan. Berikutnya mempertimbangkan standar nasional. Kemudian, isi kurikulum serta analisis kekuatan maupun kelemahan. Seluruh pertimbangan untuk membantu siswa mudah mengikuti pembelajaran sehingga mereka dapat memperoleh manfaat yang bermakna.

Proses ini mengarahkan guru pada perumusan masalah yang akan diteliti. Kejelasan masalah yang akan diteliti akan menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Masalah diangkat dari pelaksanaan tugas, apa yang yang sesungguhnya menjadi kesulitan siswa dalam proses belajar, apa yang menjadi kendala, hal apa yang masih dianggap kurang, mengapa masih ada yang belum tuntas, bagaimana siswa menyelesaikan tugas, semua dapat menjadi pilihan sebagai sumber masalah.

Tujuan penelitian dapat dirumuskan untuk menentukan sasaran yang diharapkan yang dapat membantu siswa memahami konsep, menerapkan konsep, dan trampil menggunakan konsep. Namun tujuan dapat dibatasi pada kegiatan-kegiatan yang terbatas. Untuk membatasi masalah yang diteliti perlu menggunakan landasan teori yang dipilih dari sumber yang terpercaya.

Mengkaji RPP

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) didisain guru-guru untuk memenuhi kebutuhan siswa pada tingkat satuan pendidikan. Untuk menyelaraskan dengan kebutuhan khas sekolah guru perlu memahami visi serta indikator pencapaiannya. Mimpi yang ada dalam visi perlu diwujudkan dalam indikator oprasional pembelajaran yang terukur dalam bentuk aktivitas siswa dalam kelas. Guru harus dapat mempertimbangkan ruang lingkup materi minimum memenuhi standar nasional. Proses belajar dan hasil belajar siswa juga harus memenuhi standar. Guru perlu menentukan metode belajar, sumber belajar, alat belajar yang paling sesuai dengan kekuatan siswa dengan tipe belajar siswa. Di samping itu dapat menelaah pelaksanaan dan hasil evaluasi.

Hal yang paling utama yang perlu guru tempuh adalah penerapan rencana belajar itu harus tepat waktu, artinya sesuai dengan kalender pendidikan yang telah disahkan. Juga yang tidak kalah penting adalah, apa yang telah tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan apa yang guru perankan dalam kelas.

Karena yang menjadi titik berat pengamatan dalam Lesson Studi adalah proses kegiatan siswa belajar, maka dari RPP inilah instrumen diturunkan dengan menentukan fokus kajian telebih dahulu. Pertanyaan oprasional dapat dikembangkan dalam proses yang terkait pada prilaku belajar siswa yang mereka tampilkan; dalam penguasaan konsep, dalam memecahkan masalah, menghadapi kesulitan belajar, dalam menggunakan sumber belajar, dalam berinteraksi dengan teman, dalam mempergunakan alat peraga, sehingga berdampak pada mempercepat penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan dsb.

Ruang Lingkup Pengembangan

Sebelum memulai pelaksanaan kegiatan lesson studi, sebagai bagian dari kegiatan pengembangan profesi berlandaskan pada hasil kegiatan pengamatan lapangan secara ilmiah, ada baiknya guru memperhatikan ruang lingkup pengembangan kompetensi profesi dan pedagogic seperti diuraikan dalam diagram di bawah ini.

Visi idealnya menjadi poros pengembangan tiga dimensi utama yaitu menguasai tujuan pendidikan, kurikulum, materi pelajaran, dan indikator kinerja belajar yang harus siswa kembangkan, menguasai teori belajar, konteks pengembangan, dan ketiga menguasi keterampilan mengelola keragaman siswa dan manajemen kelas. Semua komponen yang menjadi masukan, proses, dan keluaran perlu diorganisasikan dengan cermat.

Langkah berikut yang menjadi bagian penting pada awal penelitian adalah merumuskan masalah yang jelas, sederhana, lengkap dan bermanfaat untuk dipecahkan.

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

03 December 2009 | 7:54 PM | 0 Comments

Metode Pengajaran

Dalam teknologi pengajaran kita mengenal berbagai metode pengajaran antara lain: metode ceramah, tanya jawab, diskusi kelas, studi kasus, role game, simulasi, drama dan psycho drama, dsb. Di Learnit kami menerapkan metode yang paling tepat sesuai sasaran topik bahasan. Pada umumnya metode ceramah untuk memperkenalkan konsep mengambil porsi 25%, sedangkan diskusi kelas, studi kasus, dan simulasi mencapai 60%, sisanya menggunakan pengembangan metode kontigensi sesuai kebutuhan sasaran bahasan. Komposisi ini sebenarnya tidak mutlak, karena pada beberapa modul justru pembahasan soal ujian mengambil porsi terbesar. Misalnya Modul MCSE BootCAMP dan CCNA BootCAMP pembahasan soal ujian bahkan mencapai 65%. Ini semua tergantung pada sasaran modul tersebut. Intinya adalah penerapan metode pengajaran yang paling efektif, tergantung pada target materi atau pokok bahasan tersebut. Kami memahami benar prinsip ini.
Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

Metode Pengajaran

Dalam teknologi pengajaran kita mengenal berbagai metode pengajaran antara lain: metode ceramah, tanya jawab, diskusi kelas, studi kasus, role game, simulasi, drama dan psycho drama, dsb. Di Learnit kami menerapkan metode yang paling tepat sesuai sasaran topik bahasan. Pada umumnya metode ceramah untuk memperkenalkan konsep mengambil porsi 25%, sedangkan diskusi kelas, studi kasus, dan simulasi mencapai 60%, sisanya menggunakan pengembangan metode kontigensi sesuai kebutuhan sasaran bahasan. Komposisi ini sebenarnya tidak mutlak, karena pada beberapa modul justru pembahasan soal ujian mengambil porsi terbesar. Misalnya Modul MCSE BootCAMP dan CCNA BootCAMP pembahasan soal ujian bahkan mencapai 65%. Ini semua tergantung pada sasaran modul tersebut. Intinya adalah penerapan metode pengajaran yang paling efektif, tergantung pada target materi atau pokok bahasan tersebut. Kami memahami benar prinsip ini.
Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

Pendekatan Pembelajaran

oleh: Akhmad Sudrajat

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :

  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.

Pendekatan Pembelajaran

oleh: Akhmad Sudrajat

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :

  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)

Klick «« Artikel Selengkapnya »»
NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.
 

Tips Tingkatkan jumlah pengunjung Blog, melalui doorwaypage.com

Online users :

JavaScript Free Code

Posisi Nomor Kartu Seluler »

Ceebydith HLR Lookup

Pengikut »

free counters

About this Blog »

Berisikan tautan dari berbagai sumber internet tentang : media pendidikan, model-model pembelajaran, motode pembelajaran, strategi belajar mengajar, evaluasi pembelajaran, assesment outentik, penelitian pendidikan, metode penelitian, penelitian tindakan kelas, kurikulum, dan lain-lain terkait lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Isi di dalamnya bukan semuanya ditulis oleh admin education zone, tetapi dari berbagai rujukan atikel yang didapat dari internet yang terkait dengan materi pendidikan, dengan maksud untuk memudahkan bagi yang memerlukan materi tentang penyiapan tenaga pendidik dalam pengembangan ilmu pendidikan, untuk itu kami mohon ma'af bagi yang artikelnya kami muat disini, yang jelas kami tetap menampilkan link sumber aslinya (backlink) dan terima kasih semuanya.

Pembelajaran »

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Copyright © 2010 - All right reserved by Education Zone | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.