Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Dharma Pendidikan Kompasiana MSN Indonesia Bisnis Indonesia Kompas Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Hariyono.org Education Zone Teknologi Informasi Ekonomi Mikro Ekonomi Makro Perekonomian Indonesia KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Materi Umum Kampus # # #
mandikdasmen Depdiknas Kemdiknas BSNP Kamus Bhs Indonesia BSNP # # # # #
Affiliate Marketing Info Biz # # # # # # # # #
Bisnis Online Affilite Blogs Affiliate Program Affiliate Marketing # # # # # # # # #

15 March 2010 | 10:04 PM | 0 Comments

Melatih Antusiasme Siswa Terhadap Pembelajaran

Oleh : Ana Andriani, M.pd.

An enthusiast a fanatic about life. And because the enthusiast has the attitude the good things will happen,good things do happen‘-anonymous

Antusisme adalah suatu perasaan kegembiraan terhadap sesuatu hal yang terjadi. Respon yang positif terhadap sesuatu yang ada di sekitar kita, tentu sangat diharapkan, karena respon ini akan berdampak pada perilaku sehari-hari.

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, antusisme berarti gairah, gelora semangat, minat besar. Gairah terhadap sesuatu yang ada di dalam kehidupan. Antusiasme bersumber dari dalam diri, secara spontan atau melalui pengalaman terlebih dahulu. Ibarat makanan, kalau kita melihat seseorang begitu lahap menyantap makanan yang ada di depannya, maka antusisme terjadi, sehingga respon kita terhadap makanan yang ada di depan kita pun menjadi positif, dan menyebabkan kita menjadi ingin makan dengan lahap juga.

Pada proses belajar mengajar, kecenderungan teacher centered (pembelajaran berpusat pada guru) masih nampak, yang semestinya students centered (pembelajaran berpusat pada siswa) terjadi, masih sebatas asa. Terlebih antusisme siswa dalam menghadapi pembelajaran di dalam kelas (pembelajaran trasisional), masih amat rendah.

Berbagai pelatihan untuk guru terus diupayakan, methoda dan model pembelajaran beragam digulirkan, namun tetap belum mampu menggugah antusisme siswa. Pada umumnya mereka cenderung menjadi siswa yang ‘manis’ kalau tidak dikatakan pasif. Lebih banyak diam dan hanya jadi pendengar yang baik. Sikap kritis terhadap permasalahan yang ada tidak nampak. Skeptis dan apatis yang terlihat.

Dengan menggunakan methoda serta model yang variatif, diharapkan antusisme siswa tergugah, namun apa yang terjadi? Ternyata strategy untuk memudahkan transferred of knowledge, yang sejatinya adalah transferred of attitude tidak berjalan optimal. hanya siswa-siswa tertentu dalam jumlah kecil yang dapat mengikutinya, belum secara keseluruhan.

Portofolio sebagai methoda, model serta sebagai bentuk penilaian teranyar yang sudah teramat sering disosialisasikan, ternyata belum dapat sepenuhnya diaplikasikan di lapangan. Terkait dengan waktu dan tenaga yang terbatas. Portofolio terus dikumandangkan, untuk menggugah antusisme siswa terhadap permasalahan nyata di lapangan.

Sistematika portofolio yang dimulai dari: identifikasi masalah, Perumusan masalah, di mana siswa yang memilih dan menentukan satu masalah yang akan dikaji, selanjutnya menilai kebijakan alternative, mengusulkan kebijakan masalah, sampai pada penyajian port folio, semua melibatkan peran siswa, namun tetap saja belum mampu menggugah antusisme siswa.

Realita empirik belum memperlihatkan peningkatan yang positif. Ya menjadi pertanyaan, mengapa sukar sekali melatih antusisme siswa terhadap pembelajaran?

Permasalahan ini tidak muncul begitu saja, namun terkait dengan sejarah masa lalu. Pembungkaman aspirasi terlalu lama, menyebabkan masyarakat menjadi skeptis dan apatis. Tidak langsung kepada siswa, akan tetapi pola didik orang tua sebagai keturunan langsung pelaku zaman itu, menurunkannya secara tidak langsung. Padahal manusia diciptakan Allah swt. Dengan talenta yang luar biasa, namun sayang talenta tersebut belum dapat dieksplorasi secara optimal.

Antusisme terhadap siswa dapat dilatih sedini mungkin dengan hal-hal yang mampu menggugah, sehingga respon positif yang diharapkan muncul secara bertahap. Hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Guru sebagai fasilitator mampu menciptakan arena perlombaan pada pembelajaran, tanpa melepaskan norma yang ada, tidak dengan mendiskreditkan sebagian siswa dan membela siswa lainnya.

2. Selalu dekat dengan trend yg sedang in: guru mengambil kasus-kasus yang dikorelasikan dengan bahan ajar sehingga mampu menggugah siswa. Siswa diminta untuk memutuskan suatu masalah yang terjadi di lapangan.

3. Nikmatnya menjalankan missi: visi, missi, strategy , dan mampu diaplikasikan di lapangan, dengan berbagai variasi.

4. Manfaatkan media yang ada untuk menambah wawasan guru, agar tidak ketinggalan jaman, serta mampu membantu siswa untuk berani memecahkan masalahnya serta masalah yang dihadapi lingkungan sekitarnya.

Semoga anak-anak kita menjadi manusia yang responship terhadap peasalahan masyarakat sehingga sedikit demi sedikit krisis multidimensi, secara perlahan sirna, amin.

NB: Jika anda suka artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.
 
Copyright © 2010 - All right reserved by Education Zone | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.