A. Pengertian
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu, pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “ kelola“, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”.Istilah lain dari pengelolaan kelas adalah manajemen. Manajemen adalah kata aslinya dari bahasa inggris, yaitu management. Yang berarti ketatalaksanaan, tatapimpinan, pengelolaan. Secara umum Suharsimi mengatakan bahwa manajemen atau pengelolaan adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan. (Djamarah, 2006:175)
Sedangkan kelas menurut Oemar hamalik (1987:31), adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru. (Djamarah, 2006:175)
Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan (Suharsimi Arikonto, 1992:67-68)
Sedangkan menurut Hadari Nawawi (Dalam ana Rosilawati, 2008:128) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
Menurut Sudirman N, dkk (dalam Djamarah, 2006:177), Pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potesi kelas.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan belajar-mengajar agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
B. Tujuan Pengelolaan Kelas
Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyedian fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.
Suharsimi Arikunto (1988:68 berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Menurut Ahmad (1995:2) ) (http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2009/03/09/tujuan-pengelolaan-kelas/) bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
4. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
Jadi tujuan pengelolaan kelas adalah untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
C. Langkah-langkah Pengelolaan Kelas
Setidaknya ada delapan langkah yang harus dilakukan oleh guru agar mampu menguasai dan mengelola kelas dengan baik. Kedelapan langkah tersebut menurut Hunt dalam Dede Rosyada, (2004: 183) yang dikutip oleh Ana Rosilawati (2008: 129-133), adalah:
a. Persiapan yang cermat
Yang dimaksud persiapan yang cermat disini adalah guru harus mengenali benar siswanya, karena mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kemampuan mengerjakan tugas dengan cepat, dan ada pula yang lambat. Mereka yang memiliki kemampuan mengerjakan tugas dengan cepat, harus diberi aktitas lainnya. Ini dimaksudkan agar mereka yang cepat mengerjakan tugas, tidak mengganggu temannya yang sedang mengerjakan tugas.
b. Tetap menjaga dan terus mengembangkan rutinitas
Agar siswa tidak selalu dibingungkan dengan gaya dan model penugasan yang terus berubah, tidak ada salahnya guru menjaga rutinitas. Kecepatan siswa memahami apa yang akan dilakukan gurunya, akan mampu mengurangi keributan dikelas.
c. Bersikap tenang dan terus percaya diri
Dengan ketenangan dan kepercayaan diri yang tinggi, guru akan mampu mengendalikan siswa-siswanya, sehingga proses pembelajaran akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, karena dengan bersikap tenang dan percaya diri, guru tidak akan mudah panik dan kehilangan keseimbangan, serta tidak akan ragu ketika menghadapi siswa-siswanya.
d. Bertindak dan bersikap professional
Seharusnya seorang guru harus bertindak dan bersikap profesional yang tidak hanya mampu melaksanakan tugas pokoknya, namun juga mampu melaksanakan hal-hal yang terkait denagn keberhasilan tugas pokok tersebut.
e. Mampu mengenali prilaku yang tidak tepat
Dalam hal ini guru harus mampu mengenali perilaku tidak tepat dari siswa-siswanya, yakni dalam bentuk apa perilakunya, kapan akan muncul, dan apakah perilaku tersebut sudah memerlukan respon dari guru atau belum.
f. Menghindari langkah mundur
Jika guru tidak bisa mengatasi gangguan kecil, sehingga gangguan itu terus membesar dan mengganggu siswa lainnya maka guru tidak boleh melangkah mundur.
Agar tidak melangkah mundur, maka guru harus melakukan hal-hal berikut:
1) Tegur siswa yang melakukan perbuatan tidk benar dalam kelas, saat sudah mengganggu orang lain.
2) Terus amati siswa yang diberi teguran agar tidak menimbulkan gangguan berikutnya
3) Gunakan otoritas terhadap siswa yang melakukan perlawanan, dengan mengedepankan aturan yang sudah disepakati bersama.
4) Berikan bimbingan dan arahan pada siswa-siswa yang nakal diluar kelas, dan tidak mengganggu waktu belajar siswa-siswa yang lain.
5) Tetap tenang dan penuh percaya diri ketika menghadapi dan menyelesaikan masalah siswa didalam kelas.
g. Berkomunikasi dengan orang tua siswa secara efektif
Komunikasi yang baik dengan orang tua dapat membantu pengelolaan kelas, karena semua perlakuan guru terhadap siswanya memperoleh kepercayaan dari orang tuanya. Ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan orang tua siswa, apalagi kepada orang tua dari siswa yang bermasalah.
h. Menjaga kemungkinan munculnya masalah
Agar terjaga dari kemungkinan ini, sebaiknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Penataan kelas secara fisik harus terlihat nyaman untuk belajar
2) Kurikulum harus tersusun berbasis pada tingkat kemampuan siswa
3) Sikap guru yang tenang, antuasias, penuh optimistik, akrab, namun tetap menjaga wibawa keguruannya.
4) Kemampuan guru yang selalu menjadi harapan siswa dan mampu membuktikan bahwa dia dapat memenuhi harapan mereka.
5) Sistem yang dikembangkan di sekolah mendukung bagi guru untuk mengembangkan pengelolaan kelas yang efektif, seperti sistem administrasi akademik memungkinkan guru untuk mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran, dan terkomunikasikan dengan baik pada orang tua siswa.
6) Membuat perencanaan untuk hal-hal atau kejadian-kejadian yang tidak terduga.
7) Penampilan mengajar yang dapat diterima semua siswa, kelas dikelola dengan baik, penyampaian guru yang jelas dan mudah dipahami, dan membuat suasana yang menyenangkan bagi semua orang di dalam kelas.
D. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas
Menurut djamarah dan Uzer Usman (dalam Ana Rosilawati, 2008:134-135) Prinsip-prinsip pengelolaan kelas itu mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Hangat dan Antusias
Guru harus menunjukan sikap hangat dan antusias dalam mengajar, apalagi ketika berhubungan dengan siswa. Kehangatan dan keantusiasan yang diperlihatkan oleh guru akan mendatangkan keberhasilan dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2. Tantangan
Pengunaan kata-kata, tindakan,atau cara mengajar yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar.
3. Bervariasi
Kemampuan guru dalam menerapkan keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar juga merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencapai pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
4. Keluwesan
Guru yang luas dan tidak kaku dalam menerapkan strategi pembelajaran, juga salah satu prinsip pengelolaan yang baik.
5. Penekanan Pada hal-hal yang Positif
Ini berarti bahwa penguatan positif harus lebih didahulukan dari pada penguatan negatif.
6. Penanaman Disiplin diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah agar siswa dapat mengembangkan disiplin diri.
E. Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
Komponen keterampilan mengelola kelas ini pada dasarnya terbagi dua yaitu :
a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemiliharaan kondisi belajar yang optimal, meliputi :
1. Menunjukkan sikap tanggap
Sikap tanggap ini dapat ditunjukkan oleh guru untuk membuktikan bahwa ia ada bersama dengan para siswanya, memberikan perhatian, sekaligus mengontrol kepedulian dan ketidakacuan para siswanya. Sikap tanggap ini dapat dilakukan dengan cara memandang secara seksama, gerak mendekati, memberi pernyataan serta memberikan reaksi atas gangguan dan ketidakacuan siswa dalam bentuk teguran.
2. Membagi perhatian
Pengelolaan kelas yang efektif dapat terjadi jika guru mampu membagi perhatian kepada beberapa kegiatan dalam waktu yang sama, dengan cara :
a. Visual, mengalihkan pandangan dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain dengan kontak pandang terhadap kelompok siswa atau seorang siswa secara individual.
b. Verbal, dengan cara memberikan komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas seorang siswa sementara ia memimpin kegiatan siswa yang lain.
3. Memusatkan perhatian kelompok
Kegiatan siswa dalam belajar dapat dipertahankan jika guru mampu memusatkan perhatian siswa untuk melakukan tugas secara berkelompok atau bekerjasama. Memusatkan dapat dilakukan dengan cara :
a. Memberikan tanda, misalnya dengan menciptakan atau membuat situasi tentang suatu hal sebelum menyampaikan materi.
b. Menuntut tanggung jawab, atas keterlibatan siswa dalam suatu kegiatan, baik dalam melaporkan hasil kerja kelompok, memperagakan sesuatu atau memberikan tanggapan.
4. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
Guru harus seringkali memberikan arahan dan petunjuk yang jelas dalam proses pembelajaran, sehingga siswa tidak kebingungan.
5. Menegur
Apabila terjadi penyimpangan dan pelanggaran tingkah laku siswa sehingga mengganggu proses pembelajaran didalam kelas, maka guru hendaknya memberikan teguran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Tegas dan jelas teruju kepada siswa yang mengganggu.
b. Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan.
c. Menghindari ocehan atau ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.
6. Memberi penguatan
Untuk menanggulangi siswa yang mengganggu atau tidak melakukan tugas, maka penguatan dapat diberikan sesuai dengan masalah yang muncul.
b. Keterampilan yang berhubungan degan pengembalikan kondisi belajar yang optimal, meliputi:
1. Modifikasi perilaku
Modifikasi perilaku menurut Bootzin (dalam Soetarlinah Soekadji, 1983) merupakan usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen lain pada perilaku manusia. Dalam perspektif behaviorist modidifikasi perilaku didefinisikan sebagai penggunaan secara sistematis teknik kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku sosial tertentu atau tindakan mengontrol lingkungan perilaku tersebut. (http://djejak-pro.blogspot.com/2009/12/modifikasi-perilaku-bagi-peserta-didik.html)
2. Melakukan pendekatan pemecahan masalah kelompok,
- Memperlancar terjadinya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan tugas
- Memeliharah kegaiatan-kegiatan kelompok
3. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah
Seorang guru harus memaksimalkan untuk memecahkan masalah tersebut dengan seperangkat cara untuk mengendalikan perilaku siswa tersebut.
F. Permasalahan-permasalahan di dalam kelas
Berikut ini masalah yang dihadap oleh guru sehubungan perilaku murid saat menerima pelajaran:
- Murid cepat bosan dan tidak konsentrasi
- Lambat dalam menerima pelajaran dan cepat lupa
- Tidak konsentrasi terhadap pelajaran atau linglung
- Tidak aktif di kelas
- Minimnya motivasi
- Melalaikan tugas sekolah
- Jenuh dan tidak semangat
- Hasil ujian kuran memuaskan dan serting tidak naik kelas
Adapun solusi untuk permasalahan di atas adalah sebagai berikut:
1. seorang guru haruslah memiliki kecakapan di dalam kelas dengan menciptakan suasana yang kondusif
2. apabila permasalahan semakin kompleks, seorang guru hendaknya menentukan jenis persoalan, apakah persoalan tersebut termasil persoalan pendidikan atau psikologis, sebab tiap-tiap persoalan membutuhkan metode penyelesaikan tersendiri.
3. Mengubah metode mengajra
4. Mengubah sarana pendidikan
5. Menggunakan motivasi yang bervariasi
6. Mengubah kegiatan pendidikan
7. Menggunakan kecakapan yang pernah dipraktikkan dan cocok untuk materi baru(Mahmud Kahlifah:2009, 178-180)
DAFTAR PUSTAKA
Ana Rosilawati. 2008. Profesionalisme Keguruan. Pontianak: Stain Pontianak Press
Ivor K. Davies. 1991. Pengelolaan Belajar. Jakarta: CV Rajawali
Mahmud Khalifah dan Usaham Quthu. 2009. Menjadi Guru yang Dirindu. Surakarta: Ziyad Books.
Uzer Usman. 2003. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Suharsimi Arikunto. 1992. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: CV Rajawali
Syaiful Bahri Djamarah. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2009/03/09/tujuan-pengelolaan-kelas/
http://djejak-pro.blogspot.com/2009/12/modifikasi-perilaku-bagi-peserta-didik.html
18 September 2010 | 10:37 PM | 0 Comments
Ketrampilan Pengelolaan Kelas
Strategi Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri
Oleh: Wiwik Ida Kurotul Aini
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan “Strategi Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa”. Peranan guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar di kelas sudah lama diakui sebagai salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru sebagai tenaga profesional, dituntut tidak hanya mampu mengelola pembelajaran saja tetapi juga harus mampu mengelola kelas, yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Oleh karena itu sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu di semua jenjang pendidikan, penerapan strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran merupakan salah satu alternatif yang diyakini dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang mendasar dari permasalahan pendidikan di tanah air.
Kata Kunci: strategi pengelolaan kelas, prestasi belajar, siswa
Ujian Akhir Sekolah yang disingkat UAS dengan Ujian Akhir Nasional yang disingkat UAN, selalu dilaksanakan setiap akhir tahun pelajaran oleh semua sekolah mulai dari SD sampai SMA dan SMK. Tujuan utama Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional adalah untuk (a) mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, (b) mengukur mutu pendidikan, (c) mempertanggung jawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah kepada masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagai mana tertulis dalam Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 sebagai berikut :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional tersebut Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional berupaya mengadakan perbaikan dan pembaharuan sistem pendidikan di Indonesia, yaitu dalam bentuk pembaharuan kurikulum, penataan guru, peningkatan manajemen pendidikan, serta pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Dengan pembaharuan ini diharapkan dapat dihasilkan manusia yang kreatif yang sesuai dengan tuntutan jaman, yang pada akhirnya mutu pendidikan di Indonesia meningkat.
Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas benar-benar efektif dan berguna untuk mencapai kemampuan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diharapkan. Karena pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Adam dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator.
Sebagai tenaga profesional, seorang guru dituntut mampu mengelola kelas yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Menurut Amatembun (dalam Supriyanto, 1991:22) “Pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan dan mempertahankan serta mengembang tumbuhkan motivasi belajar untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan”. Sedangkan menurut Usman (2003:97) “Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif”. Pengelolaan dipandang sebagai salah satu aspek penyelenggaraan sistem pembelajaran yang mendasar, di antara sekian macam tugas guru di dalam kelas.
Berdasarkan uraian di atas, maka fungsi pengelolaan kelas sangat mendasar sekali karena kegiatan guru dalam mengelola kelas meliputi kegiatan mengelola tingkah laku siswa dalam kelas, menciptakan iklim sosio emosional dan mengelola proses kelompok, sehingga keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan, indikatornya proses belajar mengajar berlangsung secara efektif.
Keberadaan SMA Negeri 1 Kepanjen, dengan prestasi akademis yang diraih yaitu perolehan Nun relatif baik, perolehan kejuaraan pelajar teladan, perolehan kejuaraan olympiade ilmu pengetahuan maupun dalam bidang karya ilmiah baik tingkat Nasional, Propinsi, dan Kabupaten/Kota. Demikian pula berbagai prestasi dalam bidang kegiatan (Non Akademis) diantaranya kejuaraan PMR, Pramuka, Marching Bands untuk tingkat Propinsi, Kabupaten/Kodya. Berdasarkan uraian diatas, maka identifikasi pengelolaan kelas kaitannya dengan proses dan hasil pembelajaran di sekolah, menjadi hal yang menarik untuk dijadikan fokus penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh diskripsi yang jelas dan rinci tentang strategi guru dalam: (1) Membuat perencanaan pembelajaran, (2) Membangun kerjasama dalam pembelajaran, (3) Pemberian motivasi belajar siswa, (4) Menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, (5) Meningkatkan disiplin siswa dan (6) Evaluasi proses belajar mengajar
METODE
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Tehnik penggalian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) wawancara mendalam (in depth interview) yang diperoleh dari: sepuluh guru mata pelajaran, satu konselor sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, kesiswaan, hubungan masyarakat dan sarana prasarana, kepala sekolah dan mantan kepala sekolah, (2) observasi partisipan (participant observation) dilakukan pada saat pembelajaran di kelas, Laboratorium, Perpustakaan dan di ruang tatib, dan (3) studi dokumentasi yang bersumber dari non insani, yaitu dokumen pribadi guru dan dokumen resmi sekolah.
Analisis data dilakukan selama penelitian ini berlangsung dan didasarkan atas langkah-langkah Miles & Huberman (1992), yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan dan verifikasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunkan: (1) derajat kepercayaan (credibility) yaitu trianggulasi dan pengecekan teman sejawat, (2) kebergantungan (dependability), dan (3) kepastian (confirmability)
HASIL
Hasil penelitian sesuai dengan fokus dan berdasarkan paparan data, temuan penelitian adalah sebagai berikut:
Pertama bagaimana strategi guru dalam menyusun rencana pembelajaran?
Strategi menyusun rencana pembelajaran adalah sebagai berikut Kepala sekolah melalui kebijakan yang dituangkan dalam tugas guru, mewajibkan para guru untuk membuat program mengajar yang berupa: silabus, Analisa Materi Pelajaran, Program tahunan, Program Semester, dan Rencana Program Pembelajaran. Pembuatan program pembelajaran disusun secara bersama-sama melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang ada di lingkungan sekolah yang selanjutnya dimantabkan melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran tingkat Kabupaten. Selanjutnya perangkat mengajar diserahkan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk dikoreksi dan ditanda tangani oleh kepala sekolah. Pada saat mengajar, para guru selalu membawa perangkat pembelajaran dengan maksud agar proses belajar mengajar berjalan dengan terarah, dan tujuan yang dirumuskan dalam program bisa tercapai. Dan bila selesai mengajar perangkat mengajar disimpan di almari guru masing-masing yang telah disediakan oleh sekolah, dengan demikian bila diperlukan perangkat mengajar sudah ada di sekolah dan terjaga keamanannya.
Kedua, bagaimana strategi guru dalam membangun kerjasama dengan siswa dalam proses belajar mengajar?
Kegiatan guru yang profesional merupakan kegiatan atau tugas guru yang rutin yang dianggap sebagai salah satu cara untuk meningkatkan profesionalismenya. Mengingat input yang masuk SMA Negeri1 Kepanjen, tiap tahunnya rata-ratanya tinggi, maka untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi akademis siswa, guru berupaya untuk melibatkan siswa secara optimal dalam pembelajaran yang dikelolanya.
Dalam menjalin kerjasama dengan siswa, strategi yang diterapkan oleh guru SMA Negeri 1 Kepanjen adalah sebagai berikut: (a) menjalin hubungan baik dengan siswa, (b) berusaha memahami latar belakang siswa, (c) penguasaan materi dan cara penyajiannya menarik, (d) penggunaan model mengajar yang bervariasi dan (e) memberi pembinaan khusus bagi siswa bermasalah.
Pengembangan sekolah memiliki arti tersendiri bagi sekolah ini, sehingga sekolah tidak hanya menjalin kerjasama dengan siswa saja, tetapi sekolah juga menjalin kerjasama dengan orang tua/wali, perguruan tinggi, instansi pemerintah dan alumni. Adapun bentuk kerjasamanya adalah sebagai berikut: pengadaan sarana dan fasilitas sekolah, rekrutmen calon mahasiswa, penyaluran bakat dan minat siswa melalui kegiatan ektrakurikuler dan pengadaan pembina ekstra kurikuler. Kerjasama dalam hal ini, tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di kelas saja, melainkan melalui kegiatan sekolah secara keseluruhan yang mengarah pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa.
Ketiga, bagaimana Pemberian Motivasi belajar terhadap siswa
Mengingat input siswa baru yang masuk ke SMA Negeri 1 Kepanjen setiap tahunnya tergolong tinggi, demikian pula secara umum motivasi belajar siswanya bagus, sehingga pemberian motivasi terhadap siswa adalah sebagai berikut: (a) khususnya siswa kelas tiga selalu diberi latihan-latihan soal, (b) pemberian tugas untuk praktek lapangan, (c) mengikut sertakan siswa dalam kegiatan ilmiah, (d) mengkomunikasikan hasil belajar siswa melalui papan pengumuman maupun melalui pertemuan dengan orang tua, (e) pemberian reinforcement, (f) penggunaan media dalam pembelajaran dan (g) pemberian layanan bimbingan.
Dengan pemberian motivasi dalam bentuk pemberian tugas pada siswa, khususnya di SMA 1 Negeri Kepanjen, hasilnya efektif sekali karena dengan strategi tersebut mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
Keempat, bagaimana strategi dalam menciptaan Iklim Pembelajaran
Agar pelaksanaan pembelajaran di kelas berlangsung dengan lancar dan efektif, maka pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah, staf dan guru melakukan upaya berupa: (a) petugas tatib selalu mengantisipasi berkeliling di lingkungan sekolah untuk mengontrol tempat-tempat yang rawan, (b) waka kesiswaan mengadakan razia di dalam kelas dengan dibantu petugas tatib dan guru pembimbing, (c) dalam mengajar guru berusaha memahami karakter siswa, (d) guru berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, (e) guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya tentang kesulitan pelajaran atau masalah lainnya, dan (f) guru berusaha menciptakan kemudahan siswa dalam mempelajari pelajaran eksak. Dengan strategi seperti diatas, maka iklim di lingkungan SMA Negeri Kepanjen, memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa merasa senang dan betah berada di sekolah selama jam efektif kegiatan belajar mengajar, bahkan hingga sore hari untuk mengikuti kegiatan tambahan.
Kelima, bagaimana Upaya dalam Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa
Karakteristik SMA Negeri Kepanjen adalah semua warganya mulai dari pimpinan sekolah, guru, karyawan dan siswanya memiliki budaya disiplin yang tinggi. Namun demikian pihak sekolah tetap mempertahankan serta melestarikan budaya disiplin yang sudah bagus ini untuk ditingkatkan menjadi menjadi kultur disiplin yang mandiri. Adapun strategi untuk meningkatkan disiplin, sebagai berikut: (a) sekolah memiliki sistem pengendalian ketertiban yang dikelola dengan baik, (b) adanya keteladanan disiplin dalam sikap dan prilaku mulai dari pimpinan sekolah, guru dan karyawan, (c) mewajibkan siswa baru untuk mengikuti ekstrakurikuler Pramuka, (d) pada awal masuk sekolah guru bersama siswa membuat kesepakatan tentang aturan kelas, (e) memperkecil kesempatan siswa untuk ijin meninggalkan kelas, (f) setiap upacara hari senin diumumkan frekuensi pelanggaran terendah. Dengan strategi tersebut diatas kultur disiplin siswa bisa terpelihara dengan baik, suasana lingkungan belajar aman dan terkendali sehingga siswa bisa mencapai prestasi belajar yang optimal.
Keenam, bagaimana pelaksanaan Evaluasi Proses Belajar Mengajar
Evaluasi dalam pembelajaran di SMA Negeri Kepanjen ada dua macam yaitu: (1) penilaian terhadap hasil belajar siswa, (2) penilaian terhadap proses pengajaran.
Penilaian terhadap hasil belajar siswa baik dari ulangan harian, ulangan semester, Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional menunjukkan hasil yang memuaskan, berdasarkan data perolehan ulangan semester, perolehan Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional, SMA Negeri Kepanjen selalu menduduki posisi rangking 1, 2, dan 3 untuk wilayah kabupaten Malang. (Data dari DikNas Kabupaten Malang).
Penilaian terhadap proses pengajaran, berdasarkan hasil wawancara, observasi peneliti dan supervisi kepala sekolah, bahwa kompetensi guru dalam pembelajaran di kelas sudah bagus sekali, bahkan guru senior selalu menularkan etos kerja yang bagus, baik dalam melaksanakan tugas mengajarnya, tugas mengadministrasi hasil mengajar, maupun tugas tambahan dari sekolah. Demikian juga para guru SMA Negeri 1 Kepanjen memiliki komitmen mempertahankan prestasi sekolah yang sudah bagus ini untuk lebih ditingkatkan lagi sehingga prestasi siswa menjadi optimal. Keberhasilan SMA Negeri Kepanjen dalam mengukir prestasi didukung oleh: (a) input siswa yang tinggi, (b) etos kerja guru tinggi, (c) iklim sekolah yang kondusif, (d) adanya tanggung jawab moral dari guru senior untuk menularkan etos kerja yang tinggi terhadap guru baru, (e) peningkatan profesional guru melalui kegiatan Musyawaah Guru Mata Pelajaran, Diklat dan Workshop , (f) bimbingan belajar bagi semua siswa, (g) bimbingan prestasi bagi siswa peringkat 1-5 dari masing-masing kelas, (h) conversation bekerjasama dengan AMECC, dan (i) debat bahasa Inggris.
PEMBAHASAN
Berdasarkan temuan penelitian tersebut diatas, untuk fokus pertama yaitu strategi guru dalam menyusun rencana pembelajaran? Sebelum tahun ajaran baru, kepala sekolah mengadakan rapat kerja dengan kegiatan membuat rencana kegiatan pembelajaran selama setahun kedepan yaitu menyusun silabus, analisa mata pelajaran, program tahunan, program semester dan rencana program pembelajaran. Semua guru berusaha membuat perencanaan dengan baik, bahkan ada suasana berlomba untuk membuat program mengajar yang baik dan berupaya selesai duluan. Pada hakekatnya bila suatu kegiatan direncanakan lebih dahulu, maka tujuan dari kegiatan tersebut akan lebih terarah dan lebih berhasil. Itulah sebabnya seorang guru harus memiliki kemampuan dalam merencanakan pengajaran. Sehubungan dengan hal itu David Johnson (1979:9), mengatakan guru diharapkan merencanakan dan menyampaikan pengajaran, karena semua itu memudahkan siswa belajar. Pengajaran merupakan rangkaian peristiwa yang direncanakan untuk disampaikan, untuk menggiatkan dan mendorong belajar siswa yang merupakan proses merangkai situasi belajar (yang terdiri dari ruang kelas, siswa dan materi kurikulum) agar belajar menjadi lebih mudah.
Perencanaan/persiapan mengajar disusun secara bersama-sama dengan guru mata pelajaran yang serumpun yang tergabung dalam MGMP sekolah yang selanjutnya dimantabkan pada pertemuan MGMP tingkat kabupaten. Bahwa selain berguna sebagai alat kontrol, maka persiapan mengajar juga berguna sebagai sebagai pegangan guru sendiri (Hendiyat Soetopo & Wasty S, 1984:136). Demikian pula bahwa mengajar dengan perencanaan/Persiapan yang baik maka pelaksanaan pengajaran menjadi baik dan efektif yaitu peserta didik harus dijadikan pedoman setiapkali membuat persiapan mengajar (Tim Pembina Mata Kuliah Kurikulum. IKIP Surabaya (1988:48)
Untuk fokus yang kedua strategi guru dalam menjalin kerjasama dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, guru pada awal kegiatan belajar mengajar berupaya menjalin hubungan baik dengan semua siswa dengan memanfaatkan sedikit waktu untuk mengabsen siswa, juga mengadakan pendekatan dengan siswa dari bangku ke bangku yang lain ketika siswa mengerjakan tugas sambil melihat hasil pekerjaan siswa, seperti apa? mungkin pekerjaan siswa ada yang tidak sesuai dengan petunjuk, nah siswa yang semacam ini yang perlu diarahkan/dibimbing. Temuan peneliti diatas sesuai dengan pendekatan pengelolaan kelas yaitu pendekatan iklim sosio-emosional yang berlandaskan psikologi klinis dan konseling dengan mengasumsikan, bahwa kegiatan belajar mengajar yang efektif mempersyaratkan sosio-emosional yang baik dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa juga antara siswa dengan siswa. Untuk tugas guru yang pokok dalam pengelolaan kelas adalah membangun atau menciptakan hubungan interpersonal dan mengembangkan iklim sosio emosional yang positif.
Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar, guru berusaha menyampaikan materi pelajaran dengan suara yang jelas, dengan menggunakan bahasa yang sederhana yang mudah dipahami siswa sehingga mampu menarik perhatian siswa, juga setiap pokok bahasan selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya: manfaat pelajaran bahasa Indonesia agar bisa berbahasa Indonesia yang benar, manfaat kimia untuk industri dan sebagainya.
Model pembelajaran yang diterapkan guru adalah model pemberian tugas secara kelompok, model tutor sebaya. Setiap masuk kelas apakah kegiatan siswa mengerjakan tugas atau praktikum, siswa dikelompok-kelompokkan, setiap kelompok terdiri dari 6-8 siswa dan untuk anak-anak yang pandai disebar, yang nantinya bisa di manfaatkan sebagai tutor sebaya, disini guru berfungsi sebagai fasilitator dan hasilnya akan diinformasikan kepada sesama temannya dengan bantuan siswa yang pandai-pandai yang sebelumnya sudah dikelompokkan.
Untuk mata pelajaran matematika, menggunakan model Grade Level Based Learning (GLBL) dimana kelas dibagi menjadi tiga bagian ada upper, midle dan low kemudian dipadukan dengan model Jigsaw , siswa dikumpulkan dalam tiga tingkatan, papan dijadikan 3 petak dengan diberi soal dengan level yang berbeda sesuai dengan kemampuan siswa, setelah itu dicross kemudian bentuk kelompok baru disitulah mereka saling mengisi, lalu di tes nilainya adalah gabungan dari siswa yang potensinya rendah, sedang dan tinggi. Akhirnya anak yang tidak bisa berusaha mencari tahu dari anak yang pintar, anak yang pintar berusaha memberi ilmunya pada anak yang tidak bisa dengan tujuan agar nilai rata-ratanya baik, sebab nilainya adalah nilai bersama. Jadi anak sepintar apapun kalau tidak berusaha membantu yang kemampuan di bawahnya jatuhlah nilainya, sehingga mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengajari temannya yang nilainya rendah, juga kegiatan presentasi dari masing-masing kelompok diukur sebagai kerja sama (Sardiman,1986).
Untuk fokus ketiga yaitu pemberian motivasi belajar siswa, dalam penelitian ini ditemukan bahwa motivasi belajar siswa SMA Negeri Kepanjen bisa ditumbuhkan melalui latihan-latihan soal, pembelajaran di luar kelas, melibatkan siswa dalam kegiatan ilmiah, mengkomunikasikan hasil ulangan, menggunakan media pembelajaran, memberikan reinforcement dan memberi perhatian terhadap perkembangan prestasi maupun prilaku siswa.
Siswa SMA Negeri 1 Kepanjen rata-rata memiliki motivasi belajar yang tinggi, hal ini peneliti amati saat proses belajar mengajar berlangsung, semua siswa berusaha untuk memperhatikan dan mengikuti semua kegiatan dengan baik, kemudian adanya rasa bersaing dalam mengerjakan tugas maupun mencapai nilai yang baik, oleh karena itu guru berupaya mengelola pembelajaran di dalam kelas dengan menarik, sehingga motivasi belajar siswa tetap terpelihara dengan baik yang pada akhirnya siswa mampu mencapai prestasi yang optimal.(Mc Cleland)
SMA Negeri 1 Kepanjen memiliki target, prioritas siswa kelas III harus mampu menghadapi UAS dan UAN sehingga dalam kegiatan pembelajaran terutama yang berkaitan materi ujian akhir tersebut, setiap guru selalu berusaha memberi latihan-latihan soal baik melalui bimbingan belajar maupun pembelajaran yang efektif, misalnya mata pelajaran matematika kalau ulangan harian diberi soal-soal dengan bobot yang tinggi sehingga mereka mendapat nilai 4,5,6 tetapi kalau sudah ulangan semester mereka yang mendapat nilai 6 itu sedikit sekali, ternyata nilainya lebih bagus. Dengan diberi soal matematika yang bobot kesulitannya tinggi akan merangsang siswa untuk mengajukan berbagai pertanyaan, selanjutnya dijelaskan oleh guru, namun juga dalam latihan-latihan juga diberi soal yang bobot kesulitannya sedang, maupun yang mudah, sehingga anak-anak merasa senang dalam mengikuti pembelajaran matematika.
Mengingat pembelajaran di ruangan kelas kadang kala menjenuhkan, maka untuk menumbuhkan rasa senang belajar di luar kelas dengan memberi tugas melakukan wawancara, membuat kalimat, teks pidato, mendata penjualan di Kopsis . Dengan pembelajaran di luar kelas yang tentunya suasananya beda dan lebih menyenangkan, sehingga akan lebih memacu untuk lebih leluasa dalam mengembangkan aktifitasnya, mengungkapkan pendapatnya yang pada akhirnya siswa merasa lebih fresh dan dampaknya perolehan prestasi optimal.
SMA Negeri 1 Kepanjen merupakan lembaga pendidikan yang sudah mendapat kepercayaan dari berbagai instansi pemerintah dan perguruan tinggi, dalam menghasilkan siswa yang berpotensi, hal ini peneliti ketahui ada undangan dari berbagai instansi untuk mengikuti lomba-lomba ilmu pengetahuan maupun kegiatan ilmiah. Setiap tahun, sekolah memprogramkan pengayaan bagi siswa yang memiliki rangking 1s/d 5 untuk masing-masing kelas, dan mereka dipersiapkan untuk mengikuti lomba ilmu pengetahuan, siswa teladan dan karya ilmiah, baik tingkat nasional, propinsi maupun tingkat kabupaten.
Sekolah juga selalu mengkomunikasikan hasil prestasi belajar siswa melalui papan khusus yang tempatnya di depan ruang tata tertib, papan pengumuman hasil belajar tersebut fungsinya untuk menempelkan perolehan hasil balajar siswa, baik ulangan harian, ulangan per Kompetensi Dasar, ulangan mid semester, semester maupun rangking kelas, rangking paralel serta siswa yang harus mengikuti remedial. Juga mengkomunikasikan pada orang tua melalui buku raport. Pendapat Herzberg, pekerjaan itu sendiri dapat merupakan motivator yang kuat, yang memberikan kontribusi terhadap teori belajar, karena secara tradisional pekerjaan dianggap kebutuhan yang tidak menarik maka dianggap perlu adanya motivasi ekstrinsik.
Guru memiliki peranan kepemimpinan yang hakiki dalam hubungannya dengan produktivitas belajar. Ia memiliki tanggung jawab dalam menciptakan kondisi yang serentak memenuhi kebutuhan siswa dan kebutuhan tugas. Seorang pelajar jarang menyadari mengapa dia merasa leluasa dan dapat mengoptimalkan kemampuannya, tetapi ia memberi reaksi secara sadar terhadap “suasana yang diciptakan oleh gaya mengelola yang merupakan lambang sikap mendukung” (Gellerman, 1963). Adapun bentuk pemberian motivasi belajar kepada siswa yaitu guru-guru mengadopsi strategi “pengayaan tugas”. Pengayaan tugas mengandung arti bahwa guru mempunyai tanggung jawab yang jelas untuk merancang tugas-tugas belajar sedemikian rupa, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk mendapat pengalaman dan suatu perasaan pencapaian pribadi, penghargaan, tanggung jawab, otonomi, kemajuan dan pertumbuhan.
Memperbaiki faktor kesehatan, seperti pengawasan ketat dan komunikasi yang lebih baik cenderung untuk meningkatkan hasil belajar yang bersifat sementara. Berlainan dengan itu, pengayaan tugas dapat mengakibatkan kepuasan, motivasi dan hasil belajar yang tahan lama.
Dari penelitian Frederick Herzberg dapat diperoleh sebuah model yang berguna dan relevan dengan kegiatan belajar, karena penekanan pada pengayaan tugas memberi kepada guru sebuah strategi yang kuat untuk mengembangkan serta memperkuat motivasi siswa.
Fokus keempat yaitu menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif di SMA Negeri 1 Kepanjen, temuan peneliti sebagai berikut, bahwa semua warga khususnya yang ada di lingkungan SMA Negeri 1 Kepanjen memiliki budaya disiplin dan tertib dalam melaksanakan tugas, sekolah berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, menciptakan suasana pembelajaran demokratis, memberi kesempatan siswa untuk bertanya tentang kesulitan pelajaran, menciptakan kemudahan siswa dalam mempelajari mata pelajaran eksak dan senantiasa berusaha untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Salah satu dari program kegiatan team tatib, adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman yaitu dengan cara petugas tatib berkeliling untuk mengontrol kamar kecil, lokasi belakang sekolah, ke kantin sekolah, tempat parkir pada saat proses pembelajaran berlangsung. Sebab siswa seusia ini kadang kala ada yang senang nongkrong di tempat-tempat yang aman menurut mereka, kadang kala petugas tatib menangkap anak yang nongkrong di tempat tersebut sambil merokok, dengan langkah-langkah semacam itu maka bisa mengurangi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di sekolah, mengadakan razia yang dibantu dengan guru pembimbing selama upacara bersama berlangsung. Dengan suasana lingkungan belajar yang aman siswa bisa mengikuti pelajaran dengan baik yang pada akhirnya bisa mencapai prestasi belajar yang optimal, begitu juga guru bisa menyampaikan materi dengan baik tanpa adanya gangguan dari siswa sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar dan target pembelajaran bisa tercapai.
Untuk menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan dan siswa antusias dalam mengikuti pelajaran, seorang guru mengadopsi dari Quantum teaching yaitu menerapkan quesioner quantum dari angket tersebut guru akan mendapat data tentang type belajar siswa, bagaiman type belajar visual, auditorial dan kinestetik. Kemudian data mengenai sifat dan gaya belajar siswa tersebut dipakai untuk meletakkan posisi siswa, bila siswa tergolong visual maka posisi duduknya ditempatkan ditengah, kalau kinestetik ditempatkan di dekat pintu, kalau auditorial di tempatkan di belakang, demikian juga metode mengajarnya juga dibuat bervariasi. Kenyataannya dengan tekhnik-tekhnik semacam itu pembelajaran bias menyenangkan siswa. Selain strategi diatas dengan cara menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis dimana semua siswa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran maupun dalam memecahkan persoalan-persoalan kelas dengan keputusan tetap ada pada siswa dengan guru sebagai fasilitator, hal tersebut didukung oleh Hasibuan (1988:174).
Agar pembelajaran menyenangkan siswa, guru berusaha menciptakan kemudahan siswa dalam mempelajari materi fisika, misalnya pelajaran fisika tidak banyak melibatkan matematika, jadi fisisnya yang ditonjolkan. Apa yang pernah dilihat anak, dikembangkan dalam pelajaran fisika di SMA, karena di SMA pelajaran fisika sudah pernah didapatkan pada pelajaran fisika di SMP, kemudian di SMA ditingkatkan dengan mempraktekkan di laboratorium dan soal-soalnya diharapkan tidak melibatkan materi matematika. Biasanya pelajaran fisika kalau sudah kena matematika, anak akan takut karena tidak bisa menyelesaikan persoalan matematika. Pada awalnya materi untuk siswa kelas X dan XI matematikanya dikurangi, fisisnya ditonjolkan tetapi kalau sudah masuk kelas III baru menggunakan analisa matematika dalam mata pelajaran fisika.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru senantiasa berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, kalau saat guru menerangkan materi yang esensial maka suasana menjadi serius, namun juga guru kadang kala melontarkan kalimat-kalimat yang membuat siswa tertawa tetapi masih dalam koridor materi tersebut. Mengingat kelas III adalah sekolah tingkat akhir yang mempunyai beban dan tanggung jawab yang lebih besar, dimana mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional, harus juga merencanakan langkah apa yang harus dilakukan setelah tamat dari SMA. Melihat beban yang harus dihadapi siswa begitu komplek maka guru SMA Negeri 1 Kepanjen juga merasa empati terhadap kecemasan yang dialami siswa, dengan menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa merasa enjoy dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan harapannya bisa mencapai prestasi belajar yang optimal (Walberg & Greenberg, 1977)
Fokus kelima yaitu strategi dalam meningkatkan kedisiplinan siswa yaitu , SMA Negeri 1 Kepanjen mewajibkan semua siswa baru untuk mengisi format pernyataan tentang kesediaan siswa untuk mematuhi semua peraturan dan tata tertib yang berlaku di SMA Negeri 1 Kepanjen dengan mengetahui orang tua, apabila dikemudian hari siswa melanggar maka siswa harus bersedia untuk menerima sanksi bahkan kalau sering melakukan pelanggaran maka siswa dikembalikan ke orang tua. Demikian pada kegiatan orientasi siswa baru (MOS), mewajibkan siswa baru mengikuti latihan baris berbaris yang dibina oleh guru SMA Negeri 1 Kepanjen yang telah mendapatkan sertifikat pelatihan Latihan Baris Berbaris dengan penyelenggara DokDikJur Rampal Malang. Selanjutnya mewajibkan siswa baru mengikuti ekstra kurikuler Pramuka, karena kegiatan pramuka berisi kegiatan yang membentuk remaja yang memiliki kepribadian yang santun, jiwa patriotik dan pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. Kegiatan ini dilaksanakan secara periodik yaitu setiap hari jum’at sore yang dibina oleh alumni yang tergabung dalam DA (Dewan Ambalan), juga ada pembina dari guru-guru SMA Negeri 1 Kepanjen yang aktif dan suka dengan kegiatan Kepramukaan.
Temuan peneliti diatas sesuai dengan pendapat Rohani (2004:22) guru mesti menyadari bahwa tanggung jawab dalam pengajaran khususnya untuk menghantarkan perkembangan dan perubahan lebih maju bagi diri peserta didik tidak boleh menafikan dan melupakan kenyataan bahwa suatu disiplin pada awalnya harus dipaksakan dari luar menuju kearah disiplin mandiri khususnya disiplin yang menyangkut aktifitas dalam kelas pengajaran
Untuk meningkatkan disiplin siswa, SMA Negeri 1 Kepanjen memiliki sistem pengendalian ketertiban yang sudah berjalan dengan baik, sistem ini dilaksanakan oleh petugas tatib bekerja sama dengan wakasek, guru piket, wali kelas, guru pembimbing dan dibantu oleh dua orang petugas satpam dan sebagai penanggung jawab dalam hal ini adalah Kepala sekolah. Petugas tatib bersama satpam setiap pagi berada di pintu gerbang depan dan pintu gerbang belakang, untuk memantau kelengkapan atribut seragam sekolah siswa, apabila menemui siswa yang seragamnya tidak sesuai dengan jadwal, atribut tidak lengkap, siswa terlambat, maka siswa yang melanggar setelah bel masuk dikumpulkan di sekretariat tatib, kemudian disuruh mengisi buku rekaman tentang jenis pelanggaran untuk ditindak lanjuti dengan memberikan sanksi. Secara umum anak-anak sudah memahami karena sebelumnya sudah disosialisasikan tentang tata tertib dan peraturan beserta sanksinya, yaitu mengumpulkan alat-alat kebersihan (misalnya: sapu, sulak, kain pel, keset dsb). Untuk meningkatkan pemantauan terhadap ketertiban siswa, pihak tatib selalu menginformasikan siswa yang melanggar kepada wali kelasnya masing-masing agar segera ditindak lanjuti dengan pembinaan wali kelas sehingga siswa tidak berani mengulangi lagi, namun bila sampai dua atau tiga kali siswa melanggar, maka tatib dan wali kelas mengirim ke guru pembimbing bahkan kalau perlu didatangkan orang tuanya, dengan harapan orang tua ikut membina di rumah.
Khususnya di SMA Negeri 1 Kepanjen, memang pengendalian ketertiban siswa dibuat sedemikian rupa sehingga bisa tercipta suasana yang tertib, aman dan terkendali terutama para guru hampir semua memberi teladan, misalnya begitu bel masuk berbunyi guru sudah berada di depan pintu kelas, demikian juga bel pelajaran berakhir, guru harus sudah mengakhiri sehingga anak-anak mengikuti bahkan begitu bel berbunyi anak-anak sudah ada di dalam ruangan kelas bahkan ada juga guru yang sudah menutup pintu kelas sehingga lima belas menit sebelum bel masuk anak sudah datang di sekolah. Temuan ini sesuai dengan pendapat yang dimuat dalam (Depdikbud, 1999:138), sekolah yang tertib, aman, dan teratur merupakan prasyarat agar siswa dapat belajar secara optimal. Kondisi semacam ini dapat terjadi jika disiplin di sekolah berjalan dengan baik. Kedisiplinan siswa dapat ditumbuhkan jika iklim sekolah menunjukakan kedisiplinan. Siswa baru akan segera menyesuaikan diri dengan situasi sekolah. Jika situasi sekolah disiplin, siswa akan ikut disiplin. Kepala sekolah memegang peran penting dalam membentuk disiplin sekolah, mulai dari merancang, melaksanakan, dan menjaganya.
Fokus keenam yaitu evaluasi proses belajar mengajar Berdasarkan temuan peneliti bahwa evaluasi proses belajar mengajar dilaksanakan pada awal pembelajaran, guru selalu melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan materi pertemuan sebelumnya. Kegiatan selanjutnya membahas materi inti yang sudah dipelajari siswa sebelumnya, sehingga saat guru membahas para siswa cepat memahaminya. Setelah itu guru memberikan beberapa persoalan dipapan tulis dengan memberi kesempatan siswa secara bergilir untuk mengerjakan kedepan dan 90% siswa mengerjakan soal tersebut dengan benar. Demikian pula bila melihat hasil nilai ulangan harian, rata-rata nilainya baik ( 85 – 100), dan hasil ulangan harian selalu dibagikan kepada siswa, ulangan semester dilaksanakan secara serempak bersama SMA yang ada di wilayah kabupaten Malang dengan perolehan hasil ulangan semester secara umum kelas X, 2 dan kelas 3 berada pada posisi rangking 1-2 dan data perolehan UAN berada posisi rangking 1-2 untuk wilayah kabupaten Malang. Evaluasi belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru orientasinya pada hasil belajar maupun kepada proses pembelajaran itu sendiri (Glaser,1965).
Kontrol adalah suatu pekerjaan yang dilakukan seorang guru untuk menentukan apakah fungsi organisasi serta pimpinanya telah dilaksanakan dengan berhasil mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Jika tujuan itu belum dicapai, maka seorang guru harus mengukur kembali serta mengatur situasi tetapi ia tidak boleh mengubah tujuannya. Jika seseorang guru mengadakan kontrol, maka ia melakukan: (1) mengevaluasi sistem belajar, (2) mengukur hasil belajar, dan (3) memimpin dengan berpedoman pada tujuan yang tertentu. Dengan jalan demikian, guru-manajer mencoba menentukan apakah kejadian-kejadian sesuai dengan apa yang direncanakan, dan jika terjadi kegagalan diubah menjadi suatu keberhasilan. Hal ini dilakukan dengan jalan memimpin dengan efektif. Hanya efektivitas dia yang dapat mengubah sumber menjadi hasil(Davies,1986:36)
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan, pertama strategi guru dalam membuat perencanaan pembelajaran sebelum tahun ajaran baru, kepala sekolah mewajibkan semua guru membuat perencanaan pembelajaran yang meliputi: silabus, analisa materi pelajaran (AMP), program tahunan, program semester, dan Rencana program pengajaran. Pembuatan program mengajar dibuat bersama-sama dengan para guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di sekolah yang kemudian dimantabkan pada pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat Kabupaten. Selain perangkat mengajar, penataan ruangan belajar dan pengaturan siswa di dalam kelas, perlu disiapkan pula. Penataan kelas dan penempatan siswa dalam kelas telah diprogramkan oleh sekolah melalui wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana bekerjasama dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, guru pembimbing (BK) dan wali kelas. Mengajar dengan persiapan materi yang matang, penataan ruang belajar yang baik dan pengaturan penempatan siswa di kelas, maka pembelajaran berjalan dengan lancar dan tertib, demikian juga suasana kelas menjadi nyaman dan siswa bisa mengikuti pembelajaran dengan on task, yang pada akhirnya siswa bisa mencapai prestasi belajar yang optimal.
Kedua Membangun Kerjasama dengan Siswa dalam Pembelajaran. Membangun kerjasama dengan siswa, artinya dalam pembelajaran terjadi interaksi yang komunikatif atara guru dengan siswa. Upaya-upaya tersebut: (a) menjalin hubungan baik dengan siswa melalui kegiatan pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler, (b) berusaha menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah di pahami siswa, (c) menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, (d) menggunakan model pembelajaran yang bervariasi. Dengan tategi ini suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, sehingga siswa menjadi on task dalam pembelajaran.
Ketiga Pemberian Motivasi Terhadap Siswa, input siswa SMA Negeri Kepanjen, rata-rata tiap tahunnya tinggi, dan secara umum motivasi belajar siswa tinggi pula, maka pemberian motivasi belajar terhadap siswa diberikan dalam bentuk pemberian tugas dan reward: (a) pemberian latihan- latihan soal UAN, (b) pemberian tugas untuk praktek lapangan,(c) mengikut sertakan siswa dalam kegiatan ilmiah, (d) selalu mengkomunikasikan hasil belajar siswa, (e) memberikan penguatan/ reinforcement, (f) pembelajaran dengan menggunakan media, (g) memberikan layanan khusus. Kenyataannya di SMA Negeri 1 Kepanjen dengan pemberian motivasi dalam bentuk pemberian tugas, maka siswa termotivasi untuk mencapai prestasi belajar yang optimal.
Keempat Membangun Iklim Pembelajaran Yang Kondusif Dalam menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif di lingkungan SMA 1
Negeri Kepanjen, strategi yang diterapkan adalah sebagai berikut: (a) petugas tatib selalu mengantisipasi dengan berkeliling untuk mengontrol tempat-tempat yang rawan (kamar mandi, kantin, tempat parkir belakang), (b) mengadakan razia yang dilaksanakan oleh waka kesiswaan bekerjasama dengan petugas tatib dan guru pembimbing (BK), (c) guru berusaha memahami siswa dengan latar belakangnya, (d) guru berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, (e) guru bersedia untuk membantu siswa dalam memecahkan kesulitan belajar, dan (f) menciptakan kemudahan siswa dalam mempelajari materi pelajaran .
Kelima, Upaya dalam Meningkatkan Disiplin Belajar Siswa
Karakteristik SMA Negeri 1 Kepanjen adalah semua warganya mulai dari
kepala sekolah, guru, karyawan dan siswanya memiliki budaya disiplin yang baik, adapun upaya dalam meningkatkan disiplin siswa sebagai berikut: (a) sekolah memiliki sistem pengendalian ketertiban yang dikelola dengan baik, (b) adanya keteladanan disiplin dalam sikap dan prilaku mulai dari pimpinan sekolah, guru dan karyawan, (c) mewajibkan siswa baru untuk mengikuti ekstrakurikuler Pramuka, (d) pada awal masuk sekolah guru bersama siswa membuat kesepakatan tentang aturan kelas, (e) memperkecil kesempatan siswa untuk ijin meninggalkan kelas, dan (f) setiap upacara hari senin diumumkan frekuensi pelanggaran terendah. Dengan strategi tersebut diatas kultur disiplin siswa bisa terpelihara dengan baik, suasana lingkungan belajar aman dan terkendali sehingga siswa bisa mencapai prestasi belajar yang optimal.
Keenam, Evaluasi Proses Belajar Mengajar, sebagai seorang manajer pembelajaran di kelas, guru mengadakan evaluasi, baik terhadap hasil belajar siswa maupun terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan perolehan ulangan harian, ulangan semester, Ujian Akhir Sekolah, maupun Ujian Akhir Nasional menunjukkan hasil yang memuaskan. Untuk tingkat wilayah kabupaten Malang perolehan hasil ulangan semester, Ujian Akhir Sekolah, Ujian Akhir Nasional posisi rangking 1,2 dan 3 diraih oleh SMA Negeri 1 Kepanjen.
Keberhasilan SMA Negeri 1 Kepanjen dalam meraih semua ini didukung oleh kinerja guru yang bagus, input siswa tinggi, lingkungan pembelajaran yang kondusif, para guru memiliki komitmen untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Didukung pula oleh peranan kepala sekolah yang mengaktifkan
Musyawarah Guru Mata Pelajaran tingkat sekolah dan mengikut sertakan guru-guru dalam kegiatan Pendidikan dan Latihan yang mendukung tugasnya
serta menyediakan fasilitas pembelajaran yang menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Saran
Bagi Sekolah. 1) pelaksanaan pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru – guru SMA Negeri 1 Kepanjen sudah berjalan dengan baik, hendaknya ditindak lanjuti dengan supervisi kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah maupun instruktur mata pelajaran yang serumpun, 2) untuk meningkatkan kompetensi profesional perlu ditindak lanjuti dengan pengadaan DikLat tentang Quantum learning dan Quantum teaching , 3) salah satu aspek pemberian motivasi belajar siswa adalah tersedianya fasilitas dan media pembelajaran yang memadai di SMA Negeri 1 Kepanjen, oleh karena itu sekolah perlu menyediakan tenaga khusus untuk mengelola laboratorium beserta peralatannya sehingga pada saat guru mengajar fasilitas dan media itu sudah tersedia dan siap pakai, otomatis perawatan dan kebersihan media terpelihara, 4) upaya dalam meningkatkan disiplin siswa di SMA Negeri Kepanjen perlu dicontoh/dipelajari oleh SMA Negeri maupun swasta yang ada di wilayah Kabupaten Malang, baik dalam sistemnya maupun pelaksanaanya. Namun akan lebih kelihatan tertata apabila ruangan tatib diatur sedemikian rupa, pelaksanaan tata tertib dan peraturan sekolah perlu dikelola dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen, 5) dalam Penerimaan Siswa Baru, SMA Negeri 1 Kepanjen sudah waktunya untuk mengembangkan diri yaitu merekrut siswa melalui jalur prestasi akademis maupun jalur prestasi non akademis, karena SMA Negeri 1 Kepanjen dikalangan masyarakat sudah mendapat kepercayaan yang tinggi untuk mendidik putra putrinya menjadi siswa yang berkualitas.
Untuk Dinas Pendidikan, 1) memberikan sumbangan pemikiran dan masukan, peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan manajemen kelas dalam pembelajaran, 2) dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, hendaknya aspek prilaku dan kepribadian tetap menjadi kriteria kenaikan kelas dan kriteria pelulusan , 3) SMA Negeri 1 Kepanjen ditinjau dari komponen-komponen pendidikannya, input maupun para lulusannya memiliki kualitas yang bagus oleh karena itu sudah sepantasnya kalau SMA Negeri 1 Kepanjen dijadikan Pilot Project Sekolah Unggulan.
Untuk Peneliti Lain, dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wawasan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan informasi serta referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti kasus-kasus sejenis mengenai Strategi Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa.
DAFTAR RUJUKAN
Amatembun, NA. 1989. Manajemen Kelas, Penuntun Bagi Guru dan Calon Guru. Bandung, FIP IKIP Bandung.
Cangelosi, J.S. 1993. Classroom Management Strategies, Gaining and Maintaining Student Cooperation. Second Edition, by Logman Publishing Group.
Cooper, J.M. 1977. Classroom Teaching Skills. A Handbook. Lexingtong: De Health and Coy.
Davies, I, K. Tanpa tahun. Pengelolaan Belajar. Terjemahan oleh Sudarsono & Lily. 1986. Jakarta: C.V. Rajawali.
Direktorat Dikmenum, 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Buku Konsep I dan Pelaksanaan MPMBS. Departemen Pendidikan Nasional.
Depdikbud Dikdasmen, 1997. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. 1998. Jakarta: Depdikbud.
Dimyati, M.,& Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Depdikbud. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Hasibuan, J.J. 1988. Proses Belajar Mengajar Ketrampilan Dasar Pengajaran Mikro Bandung: Remadja Karya.
HM, Ahmad, R. 2004. Pengelolaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta.
Miles, M.B. & Huberman.A.M. 1992. Qualitative Data Analysis: A Course Book of New Methods. Beverly Hills: Sage Publications. Inc.
Spradley, J.P. 1980. Participant Observation Sydney, Holt, Rinehart and Winston.
Suryabrata ,S. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2004. Jakarta: Fokusmedia.
Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang
Usman, M.U. 2003. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pengelolaan Kelas Yang Efektif
Sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas merupakan aset bangsa dan negara dalam melaksanakan pembangunan nasional di berbagai sektor dan dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat dalam era globalisasi. Sumber daya manusia ini tiada lain ditentukan oleh hasil produktivitas lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan, yang terdiri atasi jalur sekolah dan luar sekolah, dan secara spesifik merupakan hasil proses belajar-mengajar di kelas.
Baca peran guru pada pengelolaan kelas Pendidikan jalur sekolah terdiri atas tiga jenjang yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi serta bersifat formal, karena dilaksanakan secara berkesinambungan dan adanya saling keterkaitan dalam kurikulum yang diajarkan. Jenjang pendidikan yang lebih tinggi baru bisa diikuti apabila jenjang sebelumnya telah selesai diikuti dan berhasil (St. Vembriarto, dkk.,1994 : 48).
Inti dari efektifitas pengelolaan kelas sama artinya dengan kegiatan suatu sekolah atau kelas yakni proses belajar mengajar (PBM). Kualitas belajar siswa serta para lulusan banyak ditentukan oleh keberhasilan pelaksanaan PBM tersebut atau dengan kata lain banyak ditentukan oleh fungsi dan peran guru dalam kelas. Pada dewasa ini masih banyak permasalahan yang berkaitan dengan PBM. Seringkali muncul berbagai keluhan atau kritikan para siswa, orang tua siswa ataupun guru berkaitan dengan pelaksanaan PBM tersebut.
Keluhan-keluhan itu sebenarnya tidak perlu terjadi atau setidak-tidaknya dapat diminimalisasikan, apabila semua pihak dapat berperan, terutama guru sebagai pengelola kelas dalam fungsi yang tepat. Sementara ini pemahaman mengenai pengelolaan kelas nampaknya masih keliru. Seringkali pengelolaan kelas dipahami sebagai pengaturan ruangan kelas yang berkaitan dengan sarana seperti tempat duduk, lemari buku, dan alat-alat mengajar. Padahal pengaturan sarana belajar mengajar di kelas hanyalah sebagian kecil saja, yang terutama adalah pengkondisian kelas, artinya bagaimana guru merencanakan, mengatur, melakukan berbagai kegiatan di kelas, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dan berhasil dengan baik. Pengelolaan kelas menurut penulis adalah upaya yang dilakukan guru untuk mengkondisikan kelas dengan mengoptimalisasikan berbagai sumber (potensi yang ada pada diri guru, sarana dan lingkungan belajar di kelas) yang ditujukan agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang ingin dicapai.
Dalam pengelolaan kelas ada dua subjek yang memegang peranan yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengelola, sebagai pemimpin mempunyai peranan yang lebih dominan dari siswa. Motivasi kerja guru dan gaya kepemimpinan guru merupakan komponen yang akan ikut menentukan sejauhmana keberhasilan guru dalam mengelola kelas.
Banyak aspek yang terkait dengan pengelolaan kelas, akan tetapi dalam dalam tulisan kali ini yang menjadi perhatian ialah motivasi kerja dan gaya kepemimpinan guru. Kedua variabel ini merupakan faktor yang terkait langsung dengan pribadi guru, yang akan menentukan perilaku guru dalam mengelola kelas.
Efektivitas Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai Classroom Manage- ment, itu berarti istilah pengelolaan identik dengan manajemen. Pengertian pengelolaan atau manajemen pada umumnya yaitu kegiatan-kegiatan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, dan penilaian.
Wilford A. Weber (James M. Cooper, 1995 : 230) mengemukakan bahwa “Class- room management is a complex set of behaviors the teacher uses to establish and maintain classroom conditions that will enable students to achieve their in- structional objectives efficiently – that will enable them to learn.”
Definisi di atas menunjukkan bahwa pengelolaan kelas merupakan seperangkat perilaku yang kompleks dimana guru menggunakan untuk menata dan memelihara kondisi kelas yang akan memampukan para siswa mencapai tujuan pembelajaran secara efisien.
Lebih lanjut Wilford mengemukakan mengenai pandangan-pandangan yang bersifat filosofis dan operasional dalam pengelolaan kelas :
1. pendekatan otoriter: siswa perlu diawasi dan diatur;
2. pendekatan intimidasi : mengawasi siswa dan menertibkan siswa dengan cara intimidasi;
3. pendekatan permisif : memberikan kebebasan kepada siswa, apa yang ingin dilakukan siswa, guru hanya memantau apa yang dilakukan siswa;
4. pendekatan resep masakan : mengikuti dengan tertib dan tepat hal-hal yang sudah ditentukan, apa yang boleh dan apa yang tidak;
5. pendekatan pengajaran : guru menyusun rencana pengajaran dengan tepat untuk menghindari permasalahan perilaku siswa yang tidak diharapkan;
6. pendekatan modifikasi perilaku : mengupayakan perubahan perilaku yang positif pada siswa;
7. pendekatan iklim sosio-emosional : menjalin hubungan yang positif antara guru-siswa ;
8. pendekatan sistem proses kelompok/dinamika kelompok : meningkatkan dan memelihara kelompok kelas yang efektif dan produktif. Dari kedelapan pendekatan tersebut yang akan mengoptimalisasikan pengelolaan kelas adalah pendekatan modifikasi perilaku, iklim sosio-emosional, dan sistem proses kelompok/ dinamika kelompok.
Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan guru dalam menciptakan kondisi kelas adalah melakukan komunikasi dan hubungan interpersonal antara guru-siswa secara timbal balik dan efektif, selain melakukan perencanaan/persiapan mengajar.
Keberhasilan pengelolaan kelas bergantung pada motivasi guru, artinya guru yang memiliki motivasi yang tinggi akan dapat mengelola kelas dengan baik dan tepat. Mengelola kelas itu sendiri bukanlah tujuan utama dari setiap guru, akan tetapi apabila guru dapat mengelola kelas dengan baik, maka kegiatan belajar mengajar-nya akan berjalan baik dan siswa-siswa-nya akan berprestasi tinggi. Mengelola kelas merupakan sarana/alat untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan belajar mengajar. Tujuan guru pada dasarnya adalah bagaimana guru dapat mentransfer materi pelajaran dengan baik, sehingga siswa dapat mengerti dan menerima materi pelajaran yang diajarkan.
Disadari atau tidak, motivasi kerja guru akan mempengaruhi perilaku guru dalam melakukan tugas pekerjaannya. Guru yang pertama-tama memikirkan mengenai penghasilan/gaji akan memandang pekerjaannya sebagai sarana untuk mendapatkan uang, dan sekolah merupakan organisasi yang menjamin kesejahteraan guru. Guru akan cenderung agar sekolah menerima siswa baru dengan memperhatikan kemampuan ekonomi siswa/orang tua siswa. Guru akan berupaya untuk memberikan pelajaran tambahan sebanyak mungkin pada siswa agar mendapatkan tambahan honor sebagaimana diharapkan. Guru juga akan mengajar di banyak sekolah agar mendapat penghasilan tambahan. Akibat perilaku guru seperti itu, guru tidak akan sempat mempersiapkan pelajarannya dengan baik atau memeriksa tugas siswa satu per satu; guru hanya akan mengajar dengan metode mengajar yang mudah dilakukan baginya tanpa memperhatikan apakah siswa-siswanya dapat mengerti materi pelajaran yang diajarkannya.
Sebaliknya guru yang menaruh perhatian pada perkembangan siswa, akan berupaya menyumbangkan segala kemampuannya untuk kepentingan siswa. Guru berupaya membantu siswa yang mempunyai kemapuan belajar yang rendah. Guru akan menggunakan berbagai metoda mengajar agar siswa dapat mengerti materi pelajaran yang diajarkannya. Guru tersebut akan mempunyai kreativitas yang tinggi; mau mengorbankan waktunya agar siswa bisa berprestasi. Guru akan merasa puas apabila siswa berhasil dengan baik.
Kedua perilaku guru yang digambarkan di atas tidak terlepas dari motivasi yang dimiliki guru. Guru yang satu mempunyai motivasi hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan guru yang lain mempunyai motivasi yang tinggi, bukan untuk kepentingan diri guru itu sendiri, melainkan untuk kepentingan siswa, untuk kepentingan proses belajar mengajar yang dilakukannya agar siswa dapat menerima materi pelajaran yang diajarkannya, dapat mengembangkan potensi dirinya, dapat mempunyai wawasan yang luas dan berprestasi tinggi.
Guru yang memiliki motivasi yang tinggi dan tidak hanya untuk kepentingan dirinya, akan dapat melakukan pengelolaan kelas dengan tepat. Guru tersebut akan menaruh perhatian bagi siswa dan kelasnya. Guru akan melakukan yang terbaik bagi siswa. Dalam mentransfer materi pelajaran pada siswa, guru akan mempelajari dan mengatur kelas sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik. Guru akan mencermati kemampuan para siswa satu per satu, sehingga guru mengetahui kemampuan siswa pada tingkatan rendah, sedang atau tinggi. Dengan demikian guru akan menentukan siswa-siswa yang mana, yang perlu mendapat bimbingan yang banyak; guru dapat menentukan metoda mengajar atau media pembelajaran yang harus digunakan. Guru akan menentukan berapa banyak tugas yang perlu diberikan. Hubungan yang bagaimana yang perlu dilakukan guru dengan siswa, agar kesulitan belajar siswa dapat teratasi; motivasi belajar siswa terus meningkat.
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru ada hubungan dengan efektivitas pengelolaan kelas. Makin tinggi motivasi kerja guru, makin tinggi efektivitas pengelolaan kelas yang dapat dicapai. Demikian pula motivasi kerja guru ada hubungannya dengan gaya kepemimpinan guru dalam arti guru yang memiliki motivasi kerja tinggi, akan berupaya untuk melakukan berbagai strategi untuk keberhasilan PBM-nya termasuk untuk menggunakan gaya kepemimpinan yang
tepat.
Gaya kepemimpinan yang perlu dimiliki guru adalah gaya kepemimpinan situasional, artinya seorang guru perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan suatu gaya kepemimpinan sesuai dengan kebutuhan kelas dalam melaksanakan PBM.
Gaya kepemimpinan ini akan menentukan efektivitas dan efisiensi kepemimpinan seseorang. Pengelolaan kelas yang berhasil dengan baik akan ditentukan pula oleh kepemimpinan dan gaya kepemimpinan guru yang mengelola kelas tersebut. Kepemimpinan dan gaya kepemimpinan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.
Selain faktor motivasi kerja guru, faktor lain yang ada pada pribadi guru dan ikut menentukan efektivitas pengelolaan kelas yaitu gaya kepemimpinan guru. Gaya kepemimpinan adalah bagian dari kepemimpinan seorang guru yang disadari atau tidak, dimiliki oleh guru tersebut. Gaya memimpin kelas memberikan bobot tersendiri bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, dalam mentransfer materi pelajaran pada siswa.
Kemampuan siswa akan menentukan apa yang harus dilakukan guru agar materi pelajaran yang diajarkan dapat diterima, dipahami siswa, serta tujuan pengajaran dapat dicapai. Kemampuan siswa diistilahkan oleh Hersey & Blanchard sebagai tingkat kematangan siswa, yaitu : rendah, moderat, dan tinggi. Masing-masing tingkat kematangan ini memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda. Berkenaan hal itu, peneliti berpendapat perlunya gaya kepemimpinan situasional, yang menurut Hersey & Blanchard, didasarkan pada : 1) the amount of guidance and direction (task behavior) a leader gives; 2) the amount of sosio-emotional support (rela- tionship behavior) a leader provides; and 3) the readiness level that the follower exhibit in performing a specific task, function or objectives. (1993 : 194).
Kesiapan/kondisi kemampuan siswa yang tidak sama satu dengan yang lain merupakan faktor yang nyata ada dalam kelas dan tidak bisa dihilangkan. Oleh karena itu pengelolaan kelas yang harus dilakukan guru, salah satunya untuk mengatasi hal tersebut, dan siswa tetap dapat menerima materi pelajaran serta berprestasi.
Sumber : http://cafebaca.blogspot.com
